Tabir.com.
Joko Dolog, begitulah panggilan terkenalnya adalah sebutan untuk sebuah patung
atau arca yang bernama Mahasobhya, berada ditengah Kota Surabaya, di Taman
Apsari, di depan Gedung Grahadi. Patung yang sesungguhnya merupakan Arca Budha
Mahasobhya ini dulu diletakkan didepan rumah Residen Belanda, Baron A.M. Th. de
Salls, di Surabaya.
Banyak yang bilang
raut mukanya teduh dan tangannya membentuk sikap bhumispar samudra atau telapak
tangan kiri tertutup dan seolah ingin menyentuh bumi.
Pada batur alas sandarannya terdapat serangkaian tulisan yang dikenal dengan sebutan prasasti yang disebut Wurare, karena ditemukannya di suatu tempat yang bernama Wurare, tepatnya di daerah Kandang Gajah wilayah Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto pada tahun 1817 Masehi. Prasasti ditulis dalam bahasa Sansekerta tapi sudah mengarah ke Jawa kuno-Kawi, dan bertarikh 1211 Saka atau 21 November 1289 Masehi itu memuat beberapa fakta sejarah di jaman Kerajaan Singosari, nama lain untuk Kerajaan Tumapel yang didirikan oleh Sri Rajasa Sang Amurwabhumi, pendiri Dinasti Rajasa (alias ken Arok, versi Pararaton) pada tahun 1222 Masehi.
Pada batur alas sandarannya terdapat serangkaian tulisan yang dikenal dengan sebutan prasasti yang disebut Wurare, karena ditemukannya di suatu tempat yang bernama Wurare, tepatnya di daerah Kandang Gajah wilayah Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto pada tahun 1817 Masehi. Prasasti ditulis dalam bahasa Sansekerta tapi sudah mengarah ke Jawa kuno-Kawi, dan bertarikh 1211 Saka atau 21 November 1289 Masehi itu memuat beberapa fakta sejarah di jaman Kerajaan Singosari, nama lain untuk Kerajaan Tumapel yang didirikan oleh Sri Rajasa Sang Amurwabhumi, pendiri Dinasti Rajasa (alias ken Arok, versi Pararaton) pada tahun 1222 Masehi.
Inti sebenarnya dari
artikel ini adalah membahas tentang Prasasti Wurare ini. Sebuah prasasti yang
isinya memperingati penobatan Arca Budha Mahasobhya sebagai penghormatan dan
perlambang bagi seorang raja bernama Sri Kertanagara bergelar Sri
Maharajadiraja Sri Kertanagara Wikrama Dharmatunggadewa dari kerajaan
Singhasari, yang dianggap berdasarkan keturunannya telah mencapai derajat Jina
atau Jina Mahasobya (Budha Agung). Sedangkan tulisan prasastinya terletak di
alas lapik Arca Budha tersebut, yang ditulis bidang melingkar di bagian
bawahnya.
Raja Kertanegara
sendiri mulai memerintah atau dinobatkan menjadi raja pada tahun 1176 saka atau
1254 Masehi (Nagarakertagama pupuh 41 bait 3).
Sebagai catatan!
Sebenarnya arca Mahasobya ini pada awal mulanya berada di tempat dimakamkannya
Sri Kertanagara sendiri, sekarang dikenal dengan Candi Singosari, entah kenapa
sampai berada di daerah Wurare, tidak tanggung-tanggung sejak Hayam Wuruk
melakukan Tour Wisata dan Napak Tilas keberadaan arca ini sudah hilang,
diberitakan dalam Negarakertagama pupuh 55 bait ke-3, pupuh 56 bait dan pupuh
57. Hal yang patut diingat dalam pupuh tersebut bahwa kehilangan Arca Mahasobya
ini sudah dianggap sepantasnya atau layak dan diduga telah hilang ke
Nirwana.Diceritakan bahwa hilangnya ketika ada petir tahun saka 1253 atau 1331
Masehi, 1 satu tahun setelah Hayam Wuruk lahir.
Arca yang ada di candi
Singosari itu sebenarnya bukan hanya Arca Mahasobya saja, tetapi juga ada arca
Siwa dan keduanya hilang. yang satu dibawa ke Leiden, Belanda dan yang satu
lagi jalan-jalan dan nyasar di Wurare, berat soalnya sedangkan arca Siwanya
lebih kecil, gak ribet kalau dibawa, sama diberitakan juga oleh Negarakertagama
pupuh 56 bait ke-2 tentang arca Siwa tersebut.
Pada lapiknya terdapat
prasasti yang merupakan sajak, memakai huruf Jawa kuno, dan berbahasa
Sansekreta. Dalam prasasti tersebut disebutkan tempat yang bernama Wurare,
sehingga prasastinya disebut dengan nama prasasti Wurare. Namun jika melihat
lapiknya, disebut prasati Wurare, sangat menarik karena memuat beberapa data
sejarah di masa lampau. Angka prasasti menunjukkan 1211 Saka yang juga menurut
legenda patung ini dibuat dan ditulis oleh seorang abdi raja Kertajaya bernama
Nada. Prasasti yang berbentuk sajak sebanyak 19 bait ini isi pokoknya dapat
dirinci menjadi 5 hal, yaitu :
1. Pada suatu saat ada
seorang pendeta yang benama Arrya Bharad bertugas membagi Jawa menjadi 2
bagian, yang kemudian masing-masing diberi nama Jenggala dan Panjalu. Pembagian
kekuasaan ini dilakukan karena ada perebutan kekuasaan diantara putra Mahkota.
2. Pada masa
pemerintahan raja Jayacriwisnuwardhana dan permaisurinya, Crijayawarddhani,
kedua daerah itu disatukan kembali.
3. Pentahbisan raja
(yang memerintahkan membuat prasasti) sebagai Jina dengan gelar
CriJnanjaciwabajra. Perwujudan sebagai Jina Mahasobya didirikan di Wurare pada
1211 Saka.
4. Raja dalam waktu
singkat berhasil kembali menyatukan daerah yang telah pecah, sehingga kehidupan
menjadi sejahtera.
5. Penyebutan si
pembuat prasasti yang bernama Nada, sebagai abdi raja.
Patung tersebut dibuat
untuk menghormati Kertanegara Putra Wisnu Wardhana sebagai raja Singosari pada
masa itu. Beliau terkenal karena kebijaksanaannya, pengetahuannya yang luas
dalam bidang hukum dan ketaatannya pada agama Budha serta cita-citanya yang
ingin mempersatukan bangsa Indonesia.
Legenda lain
menyebutkan bahwa Kertanegara membangun patung untuk menghilangkan kutukan Mpu
Bharadah yang dapat menggagalkan usahanya mempersatukan kerajaan – kerajaan
yang terpisah – pisah pada saat itu. Menurut keterangan Bupati Surabaya
(Regent), patung Joko Dolog berasal dari kandang gajah.
Pada tahun 1827
pemerintah Hindia Belanda yang waktu itu dibawah Residen De Salls memindahkan
patung tersebut ke Surabaya dan ditempatkan di Taman Apsari.
Sumber : Trans Surabaya
Sumber : Trans Surabaya
Menurut legenda,
patung ini dibuat pada 1211 Saka atau 1289 M di makam Wurarare [Lemahtulis],
yang merupakan rumah Mpu Bharadah di desa Kedungwulan
Dengan data-data
tersebut nampak bahwa arca Mahasobya ini merupakan peruwujudan Kertanegara
sendiri. Dan prasasti Wurare merupakan bukti keberanian bangsa kita yang tidak
ingin dijajah oleh bangsa lain manapun. Atau mungkin juga sudah semestinya letaknya
di Surabaya yang penduduknya terkenal dengan keberanian dan sifat-sifat
kepahlawanannya.
Sejarah penemuan Arca
Joko Dolog, tidak terlepas dari legenda yang tersebar dimasyarakat, ada
beberapa versi yang mengatakan, Arca Joko Dolog ditemukan pada Tahun 1812 oleh
Belanda, akan dikapalkan ke Amsterdam, lewat pelabuhan Ujung Galuh sekarang
Tanjung Perak.
"Saat mau di
pindahkan ke kapal, Arca tidak dapat diangkut, meskipun dengan berbagai macam
cara telah dilakukan namun hasilnya tetap nihil, akhirnya diputuskan untuk
tidak dibawa ke Belanda" Ujar juru kunci Sugianto.
Arca Joko Dolog, imbuh
Sugianto, sudah mengalami beberapa kali renovasi kurang lebih dua kali. Pada
tahun 1957 Arca Joko Dolog diberi “alas duduk” berupa batu. Sebelumnya, Arca
Joko Dolog bersila di tanah tanpa alas. Pemugaran areal pertapaan Jogo Dolog
dimulai sejak tahun 1998, dengan pembangunan joglo atau atap untuk melindungi
keberadaan Joko Dolog. Scml

Tidak ada komentar:
Posting Komentar