Tabir.com. Goa Selomangleng merupakan objek wisata populer di Kotamadya
Kediri yang berada di utara kota dan dilengkapi akses jalan raya yang mulus,
tersedia angkutan kota dan dekat dengan universitas serta SMA Negeri di Kota
Kediri. Dinamakan Selomangleng dikarenakan lokasinya yang berada di lereng
bukit (bahasa Jawa: Selo = batu, Mangleng = miring), kira-kira 40 meter dari
tanah terendah di kawasan. Gua ini terbentuk dari batu andesit hitam yang
berukuran cukup besar, sehingga nampak cukup menyolok dari kejauhan.
Keistimewaan
Sepintas tidak ada
yang istimewa di goa batu ini, keunikan baru terlihat begitu mendekati pintu
goa. Beberapa meter dibawah mulut goa terdapat beberapa bongkahan batu yang
berserakan. Sebagian diantaranya terdapat pahatan, menandakan bahwa tempat ini
sudah pernah disentuh manusia. Berbagai corak relief menghiasi dinding luar
goa, diantaranya ada yang berbentuk manusia.
Melongok ke dalam gua,
suasana gelap gulita dan aroma dupa yang cukup menyengat datang menyambut
pengunjung. Tidak heran bila ada beberapa pengunjung yang takut atau berfikir
panjang sebelum memutuskan untuk memasukinya. Kesan mistis terasa kental sekali
saat berada di dalamnya. Beberapa pengunjung nampak buru-buru keluar setelah
tidak lama memasuki ruang karena, dikarenakan tidak kuat dengan aroma dupa yang
menyengat.
Goa yang terbuat dari
batuan andesit ini menjadikannya kedap air. Tidak ada stalagtit maupun
stalagmit yang umum dijumpai pada goa-goa alam. Terdapat tiga ruangan dalam
goa, dari pintu masuk kita akan tiba di ruangan utama yang tidak begitu lebar
dengan sebuah pintu kecil di sisi kiri dan kanan untuk menuju ruangan lain dari
dalam goa.
Di dalam goa ini
banyak sekali dijumpai relief yang menghiasi dinding goa. Diperlukan penerangan
tambahan untuk bisa melihatnya dengan jelas.Bisa juga menggunakan sinar lampu
dari telepon genggam yang kebetulan bisa difungsikan sebagai lampu penerangan
(senter). Pada dasar lantai banyak sekali ditemukan bunga-bunga sesajen
berwarna merah dan kuning yang masih segar. Suatu pertanda bahwa tempat ini
cukup sering digunakan untuk mengasingkan diri, bertapa atau tirakat bagi
kalangan masyarakat tertentu.
Memasuki ruangan
sebelah kiri dari pintu masuk goa, pengunjung mesti sedikit merangkak
dikarenakan ukuran pintunya yang cukup kecil. Ketika mencoba memasuki ruangan
tersebut, praktis cahaya yang ada semakin minim dikarenakan tidak adanya
penerangan pada ruang tersebut. Ditambah ruangannya yang kecil dengan atap yang
rendah sehingga kesan sempit dan sumpek mendominasi suasana dalam ruangan
tersebut. Sulit kali untuk melihat apa saja yang ada di dalam ruangan tersebut.
Ketika mencoba menelusuri dinding gua dengan penerangan dari telpon genggam,
barulah terlihat bahwa bagian dalam gua tersebut juga memiliki relief-relief
yang senada dengan bagian luar goa.
Berbeda dengan ruang
sebelah kiri goa, pada sisi kanan gua, terdapat relief pada bagian atas dari
pintu masuk. Mirip dengan relief yang sering menghiasi bagian atas dari pintu
masuk candi. Ruangan ini sedikit lebih lebar dari sisi kiri. Pada dinding goa,
terdapat bagian yang menonjol dengan cerukan kecil dibagian bawahnya, membentuk
tungku. Sebatang dupa yang masih menyala nampak berada di dalam tungku
tersebut, menebarkan aroma menyengat yang memenuhi seluruh ruangan.
Relief-relief yang ada masih bisa terlihat cukup jelas untuk dinikmati.
Sejarah
Dari cerita yang
beredar, Goa Selomangleng dulu pernah digunakan oleh Dewi Kilisuci sebagai
tempat pertapaan. Dewi Kilisuci adalah putri mahkota Raja Erlangga yang menolak
menerima tahta kerajaan yang diwariskan kepadanya, dan lebih memilih menjauhkan
diri dari kehidupan dunia dengan cara melakukan tapabrata di Goa Selomangleng.
Terlepas dari gelap
dan pengapnya suasana dalam goa, objek wisata Gua Selomangleng patut dikunjungi
saat anda berada di Kediri. Tak jauh dari lokasi goa ini juga terdapat museum
Airlangga yang merupakan museum purbakala yang bisa dikunjungi dan banyak
sekali menyimpan benda-benda arkeologi berupa patung/arca. Dan sekarang, Goa
Selomangleng diberi fasilitas lain seperti kolam renang dengan aneka wahananya
dan juga arena bermain anak.
Selain mengunjungi goa
pengunjung juga dapat "sedikit" olahraga dengan naik ke Gunung
Maskumambang yang hijau dan asri serta banyak terdapat ayam hutan yang berada
di samping Museum Airlangga. Untuk naik gunung, pengunjung tidak berlu bersusah
- susah karena telah dibangun tangga untuk naik ke atas.
Atau pengunjung yang
ingin mencoba tantangan dapat naik ke atas Gunung Klothok yang dipuncaknya
terdapat sumber mata air yang bernama 'Elo'. Selain berwisata sejarah,
pengunjung dapat berwisata outbound, jadi badan bisa sehat dan wawasan akan
sejarahpun bertambah.
Ancaman
Sampai sejauh ini
tidak ada upaya terencana dari instansi terkait untuk membuat situs
Selomangleng terpahami secara memadai oleh masyarakat yang berdiam di
sekitarnya (untuk kemudian memampukan mereka untuk melakukan pemeliharaan
secara signifikan). Perhatian yang ada hanya ala kadarnya saja. Dalam banyak
hal yang terjadi malah sebaliknya. Kawasan Selomangleng sekarang ini justru
lebih diriuhkan oleh berbagai macam kegiatan yang tidak hanya akan mengurangi
respek masyarakat terhadap keberadaan si situs, namun juga mengancam keaslian
dan keutuhannya. Keberadaan tempat hiburan (kolam renang, panggung hiburan dan
sejenisnya) yang dibangun secara permanen hanya beberapa belas meter dari
situs, beberapa patung yang lenyap dan ditambal secara serampangan dengan
menggunakan semen merupakan bukti nyata ancaman tersebut. Walaupun tidak jauh
dari lokasi tersebut berdiri museum, namun keberadaannya praktis tidak
menggetarkan siapapun. Praktis tidak ada aksi-aksi 'spektakuler' pihak
penanggung-jawab temuan arkeologis tersebut untuk membuat situs Selomangleng
lebih bermakna bagi masyarakat dan bangsa ini.
Cerita lain
Bagi pasangan
muda-mudi yang masih ragu dengan kesetiaan pasangannya, layak mendatangi Goa
Selomangleng. Goa itu tepat berada di lereng Gunung Klotok Kelurahan Pojok,
Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Lokasi tersebut oleh sebagian orang dipercaya
sebagai penguji kelanggengan hubungan asmara.
"Saya dulu sudah
pernah membuktikan dan ternyata benar. Dua kali saya pacaran dan semuanya saya
ajak ke sana. Dua-duanya juga harus berakhir dengan kata putus," kata
salah satu warga Kota Kediri, Bayu Candra (27) di sela-sela liburannya di
lokasi Goa Selomanleng,
Bayu yang saat ini
telah berkeluarga dan dikaruniai seorang putra mengaku untuk kekasih terakhir
yang saat ini menjadi istrinya, tak sekalipun diajaknya ke Goa Selomanleng.
Hal senada juga
dikatakan oleh Lasimin (56), warga yang tinggal di sekitar Goa Selomanleng.
Lelaki tua yang berprofesi sebagai petani tersebut mengaku, tidak ada yang tahu
asal-usul Goa Selomanleng dipercaya sebagai lokasi penguji kelanggengan
hubungan asmara.
"Nggih mboten
ngertos pripun awale rumiyen. Tapi meniko sampun dados kepercayaan warga mriki,
menawi tasek pacaran mendingan mboten usah dijak dolan dateng guo. (Ya tidak
tahu bagaimana awalnya. Tapi ini sudah menjadi kepercayaan warga, kalau masih
pacaran jangan diajak bermain ke goa)," ujar Lasimin.
Lasimin juga
menuturkan, jauh sejak sebelum direnovasi tahun 1991 silam, Goa Selomanleng
memang dikenal sedikit angker. Lokasinya di lereng gunung, serta bentuknya yang
unik dengan tampilan sejumlah relief halus di dalamnya, menjadikan Goa
Selomanleng memang mengerikan.
Dari keterangan sejumlah warga menyebutkan, salah satu relief yang paling menonjol di dalam goa adalah penampakan Dewi Kilisuci, putri dari Raja Kediri, Djojoamiluhur.
Dari keterangan sejumlah warga menyebutkan, salah satu relief yang paling menonjol di dalam goa adalah penampakan Dewi Kilisuci, putri dari Raja Kediri, Djojoamiluhur.
Putri raja yang dalam
sejarah dikenal memiliki wajah sangat cantik tersebut, memutuskan bertapa di
dalam Goa Selomanleng hingga akhir hayatnya. Itu sebagai upaya menyelamatkan
warga Kediri dari amukan Djotosuro, seorang pangeran buruk rupa dari
Banyuwangi, yang murka karena gagal mempersuntingnya.
"Menawi nggih
goro-goro lampahan topo meniko ingkang dadosaken guo meniko dados angker,
khsusipun tiyang ingkang pacaran. (Kira-kira karena aksi bertapa ini yang
menjadikan gua ini jadi angker, khususnya bagi orang yang masih pacaran),"
ujar Lasimin.
Secara terpisah,
Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kota Kediri, Isnaini membantah adanya mitos
tersebut. Menurutnya hal tersebut hanya kepercayaan segelintir orang, yang
mungkin telah merasakan efek dari kepercayaan tersebut.
"Banyak orang
lain yang datang dengan pasangannya dan ternyata mereka masih tetap
langgeng," ujar Isnaini saat dikonfirmasi melalui telepon selulernya.
Meski demikian, dia
menganggap Goa Selomanleng memiliki ciri khas tersendiri apabila dibandingkan
dengan gos lain di Jawa Timur.
"Saya sendiri
juga sering mendengar kepercayaan itu dan semoga hal itu akan mendongkrak
kunjungan wisata ke Goa Selomanleng," katanya.
Sanggramawijaya Tunggadewi adalah putri Raja Airlangga dari perkawinannya dengan Sri (putri Dharmawangsa Teguh) lahirlah Sanggramawijaya Tunggadewi yang menjadi pewaris takhta Kahuripan,
Tentang Dewi Kilisuci
sejak kerajaan masih berpusat di Watan Mas sampai pindah ke Kahuripan, tokoh
Sanggramawijaya menjabat sebagai Rakryan Mahamantri alias putri mahkota.
Gelar lengkapnya ialah Rakryan Mahamantri i Hino Sanggramawijaya Dharmaprasada Uttunggadewi.
Nama ini terdapat dalam prasasti Cane (1021) sampai prasasti Turun Hyang I (1035).
Pada prasasti Pucangan (1041) nama pejabat Rakryan Mahamantri sudah berganti Sri Samarawijaya.
Saat itu pusat kerajaan sudah pindah ke Daha.
Semenjak awal Putri Mahkota Airlangga ini lebih menyukai menyepi, keheningan Goa Selomangleng dan Pucangan lebih menarik hati Sanggramawijaya daripada hiruk pikuk keduniawian sehingga akhirnya beliau memutuskan mengundurkan diri dan menjadi pertapa bergelar Dewi Kili Suci.
Gelar lengkapnya ialah Rakryan Mahamantri i Hino Sanggramawijaya Dharmaprasada Uttunggadewi.
Nama ini terdapat dalam prasasti Cane (1021) sampai prasasti Turun Hyang I (1035).
Pada prasasti Pucangan (1041) nama pejabat Rakryan Mahamantri sudah berganti Sri Samarawijaya.
Saat itu pusat kerajaan sudah pindah ke Daha.
Semenjak awal Putri Mahkota Airlangga ini lebih menyukai menyepi, keheningan Goa Selomangleng dan Pucangan lebih menarik hati Sanggramawijaya daripada hiruk pikuk keduniawian sehingga akhirnya beliau memutuskan mengundurkan diri dan menjadi pertapa bergelar Dewi Kili Suci.
Selain Dewi Kilisuci,
Airlangga juga mempunyai dua orang putera dari selir. Karena pewaris tahta yang
sah tidak bisa menggantikannya, Airlangga merasa perlu membagi kerajaan untuk
dipimpin kedua putranya.
Pada akhir November
1042, Airlangga terpaksa membelah wilayah kerajaannya karena kedua putranya
bersaing memperebutkan takhta. Putra yang bernama Sri Samarawijaya mendapatkan
kerajaan barat bernama Panjalu yang berpusat di kota baru, yaitu Daha.
Sedangkan putra yang bernama Mapanji Garasakan mendapatkan kerajaan timur
bernama Janggala yang berpusat di kota lama, yaitu Kahuripan. Panjalu dapat
dikuasai Jenggala dan diabadikanlah nama Raja Mapanji Garasakan (1042 – 1052 M)
dalam prasasti Malenga. Ia tetap memakai lambang Kerajaan Airlangga, yaitu
Garuda Mukha.
Pada awalnya perang saudara tersebut, dimenangkan oleh Jenggala tetapi pada perkembangan selanjutnya Panjalu/Kediri yang memenangkan peperangan dan menguasai seluruh tahta Airlangga. Dengan demikian di Jawa Timur berdirilah kerajaan Kediri dimana bukti-bukti yang menjelaskan kerajaan tersebut, selain ditemukannya prasasti-prasasti juga melalui kitab-kitab sastra. Dan yang banyak menjelaskan tentang kerajaan Kediri adalah hasil karya berupa kitab sastra. Hasil karya sastra tersebut adalah kitab Kakawin Bharatayudha yang ditulis Mpu Sedah dan Mpu Panuluh yang menceritakan tentang kemenangan Pandawa atas kurawa, yang senada dengan kemenangan Kediri/Panjalu atas Jenggala.
Pada awalnya perang saudara tersebut, dimenangkan oleh Jenggala tetapi pada perkembangan selanjutnya Panjalu/Kediri yang memenangkan peperangan dan menguasai seluruh tahta Airlangga. Dengan demikian di Jawa Timur berdirilah kerajaan Kediri dimana bukti-bukti yang menjelaskan kerajaan tersebut, selain ditemukannya prasasti-prasasti juga melalui kitab-kitab sastra. Dan yang banyak menjelaskan tentang kerajaan Kediri adalah hasil karya berupa kitab sastra. Hasil karya sastra tersebut adalah kitab Kakawin Bharatayudha yang ditulis Mpu Sedah dan Mpu Panuluh yang menceritakan tentang kemenangan Pandawa atas kurawa, yang senada dengan kemenangan Kediri/Panjalu atas Jenggala.
Konstruksi Goa
Selomangleng yang tidak terlalu menjorok seperti halnya goa di Jawa Timur
memudahkan para pengunjung untuk menyusuri kedalamannya. Dalam keremangan
cahaya matahari yang menerobos di sela-sela dinding batu, tampak relief halus
yang menghiasi seluruh dinding goa. Gua ini terbentuk dari batu andesit hitam
yang berukuran cukup besar, bebatuan dalam goa yang kedap air ini sudah
menghitam, mungkin terpapar asap dupa dari masa ke masa, membuat relief-relief
di dinding semakin samar.
Informasi tentang arca
dan relief di Goa Selomangleng dari Dinas Purbakala maupun Pariwisata Kediri
sangat minim sekali, tidak ada informasi lebih detail. Padahal dinding goa
banyak terdapat pahatan berupa relief, akan tetapi belum diungkap secara rinci
maknanya.
Salah satu relief yang paling menonjol adalah penampakan seorang perempuan cantik yang sedang bertapa. Perempuan itu digambarkan tengah bersila tepat di antara dua ruangan yang berada di kanan-kirinya, Mungkin perempuan cantik ini adalah penggambaran dari Sang Dewi Kilisuci.
Salah satu relief yang paling menonjol adalah penampakan seorang perempuan cantik yang sedang bertapa. Perempuan itu digambarkan tengah bersila tepat di antara dua ruangan yang berada di kanan-kirinya, Mungkin perempuan cantik ini adalah penggambaran dari Sang Dewi Kilisuci.
Arca-arca pun banyak
yang teronggok di halaman depan goa begitu saja tanpa di semen untuk keamanan
patung itu sendiri, walaupun sudah tidak lengkap bentuknya tetap saja memiliki
nilai sejarah yang tinggi dan tak ternilai. Lebih bagus lagi kalau diberi
keterangan,(nama arca,ditemukan dimana, dan dari jaman apa? )
supaya kami para pengunjung dapat sekaligus belajar dan menambah pengetahuan tentang sejarah.
supaya kami para pengunjung dapat sekaligus belajar dan menambah pengetahuan tentang sejarah.
Relief sosok wanita
cantik yang sedang bertapa terdapat di lengkungan pilar di tengah ruangan goa
Relief Kala yang
Terletak diAtas Pintu Masuk Ruangan Sesaji di Goa Selomangleng
Ruangan dalam goa
terdapat tiga bagian, Suasana dalam goa selomangleng walaupun berukuran kecil
namun sinar matahari tidak bisa leluasa masuk, terutama di bagian ruangan
sebelah kanan yakni ruangan persembahan, untuk meletakkan sesaji dan dupa, juga
ruangan sebelah kiri yang terdapat pintu masuk berukuran kecil dan tinggi,
sehingga jika kita ingin memasuki ruangan pertapaan ini sedikit memanjat karena
letaknya yang lebih tinggi dari ruangan-ruangan goa yang lain.
Ruangan sebelah kanan
goa selomangleng, ada sebuah altar untuk meletakkan sesaji dan dupa
Ruangan sebelah kiri
Goa Selomangleng,dulunya digunakan oleh Dewi Kilisuci untuk bertapa, tempat
mengheningkan cipta,rasa dan karsa, menyucikan batin dan mendekatkan diri
kepada Sang Maha Pencipta
Aroma harum bunga dan
dupa menyambut anda yang berkunjung ke Goa Selomangleng, karena di goa ini pada
saat-saat tertentu masih digunakan sebagai tempat hening oleh penganut kearifan
lokal yang sangat menjunjung tinggi peninggalan para leluhur yang dianggap suci
dan memiliki nilai sejarah yang tak ternilai, oleh karenanya mereka
memperlakukan situs tersebut dengan penuh rasa hormat, menjunjung tinggi
peninggalan leluhur sebagai wujud bakti dan penghormatan, karena tanpa para
Leluhur tidak akan ada kelanjutan generasi kita yang sekarang.
Namun sayang, banyak sekali yang terlanjur menstigma negatif tanpa ingin mengetahui lebih mendalam lagi, dianggap bunga dan dupa adalah persembahan kepada makhluk gaib (setan,bekasakan dll)
Padahal bunga sendiri memiliki makna simbol yang sangat luhur sebagai pengantar doa yang dipanjatkan, misalnya:
Namun sayang, banyak sekali yang terlanjur menstigma negatif tanpa ingin mengetahui lebih mendalam lagi, dianggap bunga dan dupa adalah persembahan kepada makhluk gaib (setan,bekasakan dll)
Padahal bunga sendiri memiliki makna simbol yang sangat luhur sebagai pengantar doa yang dipanjatkan, misalnya:
Bunga Mawar ,memiliki
pengertian Mawi-Arsa : Supaya hati selalu "tawar" segala niat
didasari dengan ketulusan, sebagaimana Ketulusan Tuhan Sang Maha Pencipta/Alam
Semesta yang selalu memberikan anugerah kepada seluruh makhluk tanpa pamrih.
Bunga mawar merah-putih bisa juga melambangkan asal muasal/sangkan paraning
dumadi kehidupan manusia, agar kita selalu ingat darimana asal kita dan kemana
kita akan kembali.
Bunga Melati , Memiliki pengertian Rasa melad soko njero athi, hendaknya apa yang kita ucapkan adalah sebuah ketulusan, dan harus sama apa yang didalam hati, diucapkan dan dilakukan semua apa adanya dengan ketulusan (tidak munafik)
Bunga Kanthil , memiliki pengertian Tansah Kumanthil, atau mengandung filosofi kasih sayang yang tidak terputus, kepada seluruh makhluk hidup dan alam semesta tanpa terkecuali hendaknya saling mengasihi,menyayangi dan menghormati.
Bunga Melati , Memiliki pengertian Rasa melad soko njero athi, hendaknya apa yang kita ucapkan adalah sebuah ketulusan, dan harus sama apa yang didalam hati, diucapkan dan dilakukan semua apa adanya dengan ketulusan (tidak munafik)
Bunga Kanthil , memiliki pengertian Tansah Kumanthil, atau mengandung filosofi kasih sayang yang tidak terputus, kepada seluruh makhluk hidup dan alam semesta tanpa terkecuali hendaknya saling mengasihi,menyayangi dan menghormati.
Masih banyak
sebenarnya jenis-jenis bunga yang harum dan indah yang digunakan sebagai
sarana/pelengkap kegiatan berdoa oleh penganut kearifan lokal Jawa maupun umat
Hindu.
Tentang dupa/hio juga
banyak yang belum paham benar atau mungkin langsung merasa seram jika mencium
aroma dupa selalu dikaitkan dengan mistisisme semata grin emotikon ,
saya sering senyum sendiri memaklumi (atau bahkan trenyuh?) jika berpapasan
dengan pengunjung yang langsung kabur jika mencium atau melihat asap dupa yang
sebenarnya sangat harum dan menenangkan.
Padahal di tempat-tempat spa modern saja belakangan dupa/aromatherapy digunakan untuk relaksasi, mengendorkan syaraf yang lelah dan menghilangkan stres, otomatis inner beauty akan terpancar smile emotikon
Begitu pula saat berdoa atau dalam laku spiritual, menyalakan dupa fungsinya adalah tahap awal untuk membuat relaks/santai, melepaskan semua pikiran-pikiran,ego,nafsu duniawi dan permasalahan kehidupan, fokus pada keheningan mendalam, diharapkan dalam keadaan hening lebih dapat merasakan, mendengarkan suara hati nurani, menyucikan batin, berserah diri dan semakin dekat dengan Sang Maha Pencipta.
Itu semua hanya sedikit dari sekian banyak laku perjalanan manusia dalam menemukan Tuhannya, setidaknya itu yang simpulkan dari pengamatan dan pemahaman saya.
Padahal di tempat-tempat spa modern saja belakangan dupa/aromatherapy digunakan untuk relaksasi, mengendorkan syaraf yang lelah dan menghilangkan stres, otomatis inner beauty akan terpancar smile emotikon
Begitu pula saat berdoa atau dalam laku spiritual, menyalakan dupa fungsinya adalah tahap awal untuk membuat relaks/santai, melepaskan semua pikiran-pikiran,ego,nafsu duniawi dan permasalahan kehidupan, fokus pada keheningan mendalam, diharapkan dalam keadaan hening lebih dapat merasakan, mendengarkan suara hati nurani, menyucikan batin, berserah diri dan semakin dekat dengan Sang Maha Pencipta.
Itu semua hanya sedikit dari sekian banyak laku perjalanan manusia dalam menemukan Tuhannya, setidaknya itu yang simpulkan dari pengamatan dan pemahaman saya.
Jadi, jika anda
berkunjung ke Goa Selomangleng dan kebetulan mencium aroma dupa dan melihat
sesajian bunga, saya pikir tidak usah merasa takut atau aneh.
Dupa dan Bunga tidak bisa dilepaskan dari budaya leluhur kita dan tidak bisa dipungkiri masih dilakukan turun temurun oleh budaya kita, sama luhur dan bernilainya seperti peninggalan-peninggalan purbakala yang tersebar di seluruh Nusantara. Sangat penting kita belajar memahami dan menghargai budaya peninggalan Leluhur bangsa kita yang sarat makna dan filosofi yang agung, sebelum kita mengagung-agungkan budaya luar dan kehilangan identitas jati diri kita sebagai Bangsa Indonesia yang telah memiliki peradaban yang luar biasa, terbukti dari jejak-jejak peninggalan sejarah dan cagar budaya yang tertinggal.
Dupa dan Bunga tidak bisa dilepaskan dari budaya leluhur kita dan tidak bisa dipungkiri masih dilakukan turun temurun oleh budaya kita, sama luhur dan bernilainya seperti peninggalan-peninggalan purbakala yang tersebar di seluruh Nusantara. Sangat penting kita belajar memahami dan menghargai budaya peninggalan Leluhur bangsa kita yang sarat makna dan filosofi yang agung, sebelum kita mengagung-agungkan budaya luar dan kehilangan identitas jati diri kita sebagai Bangsa Indonesia yang telah memiliki peradaban yang luar biasa, terbukti dari jejak-jejak peninggalan sejarah dan cagar budaya yang tertinggal.
Rute Goa Selomangleng
Kediri
Dari Blitar ikutilah
jalan trans Kediri (usahakan untuk tidak mengikuti jalur bus, agar rute yang di
tempuh lebih pendek)
Memasuki kawasan kota Kediri, lanjutkan perjalanan menuju Terminal Tamanan (terminal Bus Kota Kediri)
Pertigaan Terminal tamanan belok ke kanan (utara) sampai menjumpai Traffic Light.
Beloklah ke kiri (barat), anda akan sampai di kawasan wisata Selomangleng.
Lokasi dapat dijangkau menggunakan speda motor ataupun mobil.
Koordinat Goa Selomangleng Kediri 7°48’25″S 111°58’22″E
Memasuki kawasan kota Kediri, lanjutkan perjalanan menuju Terminal Tamanan (terminal Bus Kota Kediri)
Pertigaan Terminal tamanan belok ke kanan (utara) sampai menjumpai Traffic Light.
Beloklah ke kiri (barat), anda akan sampai di kawasan wisata Selomangleng.
Lokasi dapat dijangkau menggunakan speda motor ataupun mobil.
Koordinat Goa Selomangleng Kediri 7°48’25″S 111°58’22″E
Lain-lain:
Anda akan dipungut
retribusi saat memasuki kawasan selomangleng.
Share this:
Rahasia Goa Selo
Mangleng
Menurut beberapa orang
winasis, Julukan goa pertapaan Dewi Kilisuci adalah Selo Bale, artinya
kurang-lebih bangunan tempat tinggal. Goa inilah pusat perhatian di masa
pemerintahan Baginda Erlangga 1035-an sewaktu beliau memutuskan turun takhta
dan menjadi pertapa di lereng gunung Penanggungan.
Dalam kurun singkat beberapa minggu pada1990-an siapa pun yang mengunjungi goa batu alami di punggung gunung Klotok sebelah Timur segaris lurus dengan Goa Selomangleng akan menjumpai seorang lelaki berusia delapan puluhan. Tampilannya biasa saja seperti petani, ia tidak mengenakan apapun selain celana panjang dan baju safari, pakaiannya itu pun tampak sudah tua.
Lelaki itu berambut putih, bertubuh langsing, wajahnya tampak berseri-seri. Ia tidak banyak bicara kalau tidak ditanya.
"Bapak tinggal sendirian di sini sedang melakukan apa?"
"Saya hanya menjaga tempat ini atas perintah kraton Solo. Di sinilah tempat pertapaan Dewi Kilisuci yang sebenarnya, dan bukan di Goa Mangleng di bawah sana, itu hanya museum belaka," katanya penuh keyakinan. "Kami dari kraton Solo menganggap leluhur kami berasal dari sini (dari Kediri, Jawa Timur)." Ia tidak menjelaskan lebih lanjut mengapa tempat itu harus dijaga saat ini. Ia mengalihkan pembicaraan pada bangunan di luar goa, tepatnya di seberang jurang menganga di lubang goa berukuran empat kali lima meter itu. Mengenai sedikit hipotesis mengenai misteri goa Selo Mangleng yang belum pernah dipublikasikan baca tulisan kami yang lain di blog ini berjudul, "Rahasia Kraton Sri Aji Joyoboyo".
"Di tiga ceruk batu itulah para prajurit kerajaan bertugas mengawasi tempat ini," ujarnya. Ia tidak menjelaskan lebih lanjut.
Memang samar-samar tampak dinding bukit batu tegak lurus terdapat goa-goa kecil yang berukuran mini.
"Tempat ini dulu tidak seperti ini, Ada jalan penghubung antara penjaga di seberang dan goa Selo Bale ini. Wilayah ini sekarang dikuasai pihak militer dan dijadikan ajang latihan perang-perangan menggunakan amunisi sungguhan. Mortir atau meriam biasa digunakan jika sedang masa latihan pada tahun 70-an. Dan senapan serbu laras panjang tidak terhitung lagi jumlah pelurunya yang berhamburan di sini."
Memang benar semua itu, penduduk di kawasan ini sudah tahu hal itu dan menganggap sebagai hal biasa. Memang tidak ada unsur kesengajaan dari militer untuk merusak situs itu, akan tetapi situs itu secara tak langsung terkena dampak buruknya.
Dalam kurun singkat beberapa minggu pada1990-an siapa pun yang mengunjungi goa batu alami di punggung gunung Klotok sebelah Timur segaris lurus dengan Goa Selomangleng akan menjumpai seorang lelaki berusia delapan puluhan. Tampilannya biasa saja seperti petani, ia tidak mengenakan apapun selain celana panjang dan baju safari, pakaiannya itu pun tampak sudah tua.
Lelaki itu berambut putih, bertubuh langsing, wajahnya tampak berseri-seri. Ia tidak banyak bicara kalau tidak ditanya.
"Bapak tinggal sendirian di sini sedang melakukan apa?"
"Saya hanya menjaga tempat ini atas perintah kraton Solo. Di sinilah tempat pertapaan Dewi Kilisuci yang sebenarnya, dan bukan di Goa Mangleng di bawah sana, itu hanya museum belaka," katanya penuh keyakinan. "Kami dari kraton Solo menganggap leluhur kami berasal dari sini (dari Kediri, Jawa Timur)." Ia tidak menjelaskan lebih lanjut mengapa tempat itu harus dijaga saat ini. Ia mengalihkan pembicaraan pada bangunan di luar goa, tepatnya di seberang jurang menganga di lubang goa berukuran empat kali lima meter itu. Mengenai sedikit hipotesis mengenai misteri goa Selo Mangleng yang belum pernah dipublikasikan baca tulisan kami yang lain di blog ini berjudul, "Rahasia Kraton Sri Aji Joyoboyo".
"Di tiga ceruk batu itulah para prajurit kerajaan bertugas mengawasi tempat ini," ujarnya. Ia tidak menjelaskan lebih lanjut.
Memang samar-samar tampak dinding bukit batu tegak lurus terdapat goa-goa kecil yang berukuran mini.
"Tempat ini dulu tidak seperti ini, Ada jalan penghubung antara penjaga di seberang dan goa Selo Bale ini. Wilayah ini sekarang dikuasai pihak militer dan dijadikan ajang latihan perang-perangan menggunakan amunisi sungguhan. Mortir atau meriam biasa digunakan jika sedang masa latihan pada tahun 70-an. Dan senapan serbu laras panjang tidak terhitung lagi jumlah pelurunya yang berhamburan di sini."
Memang benar semua itu, penduduk di kawasan ini sudah tahu hal itu dan menganggap sebagai hal biasa. Memang tidak ada unsur kesengajaan dari militer untuk merusak situs itu, akan tetapi situs itu secara tak langsung terkena dampak buruknya.
"Goa Selo Bale
inilah yang benar-benar jadi tempat pertapaan putri Erlangga itu, bukan di Goa
Selo Mangleng, itu hanya museum semata-mata," ujar lelaki tua mengulangi
apa yang sudah dikatakannya belum beberapa bentar, kembali suaranya terdengar
mantap dan meyakinkan.
"Dulu tempat ini tidak sedalam ini, hanya sampai sebatas sini," katanya menunjuk lantai goa. "Orang-orang yang mencari harta-karun mencoba menggali dinding ini hingga bertambah sekitar setengah meter. Tampaknya tidak berhasil mendapatkan apapun."
"Sampai sekarang orang belum berhasil menemukan peninggalan heboh kerajaan Kediri. Mungkin berada di balik bukit ini!" katanya serius, sambil menunjuk suatu sudut punggung gunung. Jika kita berjalan melingkari bukit dan tiba di balik bukit itu memang terdapat air terjun kecil, Tretes. Dan di seberang sana sebelah selatan terdapat daerah dengan julukan Gemblung, bila orang berjalan di atas daerah itu seolah ada suara dari dasar tanah berbunyi "bung, bung, bung." Mungkin ada semacam ruang bawah tanah berukuran besar.
Di balik bukit sebelah timur terdapat sumber air suci Gunung Klotok, tempat itu terkenal dengan sebutan Sumber Loh, karena di hulu aliran air yang lumayan deras itu kebetulan terdapat sebatang pohon Lo berukuran raksasa, dan dari lobang-lobang di sekitar akar pohon itulah awal mula mata air yang terus memancar sepanjang masa, tak kenal musim, dan tak kenal jaman.
Beberapa tahun kemudian jika orang tersasar atau sedang mendaki gunung Klotok dan tiba di tempat itu akan menjumpai kembali goa tersembunyi itu sunyi seperti sediakala. Tidak seorang pun berada di sana. Sesunyi sebuah goa misteri yang lain di balik bukit yang sama tempat itu disebut "Goa Kikik", arti harfiahnya kurang lebih goa mini. Barangsiapa mencari goa yang satu itu akan kesulitan menemuinya karena tiada bedanya dengan bongkahan batu biasa saja. Akan tetapi goa itu memang asli pahatan tangan nenek-moyang di masa silam. Goa Kikik seperti garis pertahanan lain dari arena perbukitan itu untuk memapak pendatang dari jurusan barat laut yang sedang mengarah ke Goa Selo Bale. Scml
"Dulu tempat ini tidak sedalam ini, hanya sampai sebatas sini," katanya menunjuk lantai goa. "Orang-orang yang mencari harta-karun mencoba menggali dinding ini hingga bertambah sekitar setengah meter. Tampaknya tidak berhasil mendapatkan apapun."
"Sampai sekarang orang belum berhasil menemukan peninggalan heboh kerajaan Kediri. Mungkin berada di balik bukit ini!" katanya serius, sambil menunjuk suatu sudut punggung gunung. Jika kita berjalan melingkari bukit dan tiba di balik bukit itu memang terdapat air terjun kecil, Tretes. Dan di seberang sana sebelah selatan terdapat daerah dengan julukan Gemblung, bila orang berjalan di atas daerah itu seolah ada suara dari dasar tanah berbunyi "bung, bung, bung." Mungkin ada semacam ruang bawah tanah berukuran besar.
Di balik bukit sebelah timur terdapat sumber air suci Gunung Klotok, tempat itu terkenal dengan sebutan Sumber Loh, karena di hulu aliran air yang lumayan deras itu kebetulan terdapat sebatang pohon Lo berukuran raksasa, dan dari lobang-lobang di sekitar akar pohon itulah awal mula mata air yang terus memancar sepanjang masa, tak kenal musim, dan tak kenal jaman.
Beberapa tahun kemudian jika orang tersasar atau sedang mendaki gunung Klotok dan tiba di tempat itu akan menjumpai kembali goa tersembunyi itu sunyi seperti sediakala. Tidak seorang pun berada di sana. Sesunyi sebuah goa misteri yang lain di balik bukit yang sama tempat itu disebut "Goa Kikik", arti harfiahnya kurang lebih goa mini. Barangsiapa mencari goa yang satu itu akan kesulitan menemuinya karena tiada bedanya dengan bongkahan batu biasa saja. Akan tetapi goa itu memang asli pahatan tangan nenek-moyang di masa silam. Goa Kikik seperti garis pertahanan lain dari arena perbukitan itu untuk memapak pendatang dari jurusan barat laut yang sedang mengarah ke Goa Selo Bale. Scml
https://www.youtube.com/channel/UCts5Ua5IehgoRev-E6-zh1A ( KI COKRO ST )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar