Tabir.com. Apa itu Kebo
Landoh? Belum banyak orang yang tahu khasiat jimat Lulang Kebo Landoh. Bahkan
mendengar namanya saja mungkin
masih terasa asing. Jimat ini sangat langkah, tidak gampang orang dapat
memilikinya. Pasalnya, jimat Lulang Kebo Lando konon tidak bisa dijual belikan.
Sedang mereka memiliki jimat ini dipercayai kebal terhadap berbagai jenis
senjata. Bagaimana jimat ini bisa ada?
Menurut
cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut jimat memiliki daya tangkal ampuh
ini disebut Lulang Kebo Landoh karena tempat asal-usulnya dari Desa Landoh,
Desa Landoh, Kayen, Pati. Dulu ajimat ini tidak langsung ada atau berasal dari
alam secara gaib, melainkan ada kisah cukup unik yang tanpa sengaja tahu kalau
lulang kebo asal Landoh ternyata jimat kekebalan.
Dituturkan
dalam cerita, semasa kerajaan Mataram yang dipimpin oleh Sultan Agung mempunyai
seorang kawulo yang bernama Saridin yang lantas dikenal dengan julukan Syech
Jangkung. Ketika usia Syech Jangkung mendekati senja ia memilih hidup sebagai
petani dengan membuka perkampungan baru di kawasan Pati, Jawa Tengah.
Dalam
perjalanan mencari perkampungan sampailah ia di Desa Lose. Di sini, ia bertemu
dengan 7 orang yang sedang memperbaiki atap sebuah rumah. Dari sinilah Syech
Jangkung ingin membuktikan kebaikan perilaku ketujuh orang tersebut. Lantas,
dia mengalihkan perhatian mereka dengan bertanya apakah ada warga sekitar yang
akan menjual kerbau. Maksud Syech jika ada maka dia ingin membeli 2 ekor dengan
alasan untuk keperluan membajak sawah.
Ke-7 orang melihat pakaian Syech Jangkung yang compang-camping tidak mengindahkan pertanyaan tersebut. Malah menghinanya dengan jawabannya yang menyakitkan. Mereka mengatakan di desanya tidak akan ada orang menjual kerbau padanya. Namun, bila mau ia akan diberi kerbau yang sudah mati. Di luar perkiraan ke-7 orang itu, Syech Jangkung menerima tawaran mereka.
Ke-7 orang melihat pakaian Syech Jangkung yang compang-camping tidak mengindahkan pertanyaan tersebut. Malah menghinanya dengan jawabannya yang menyakitkan. Mereka mengatakan di desanya tidak akan ada orang menjual kerbau padanya. Namun, bila mau ia akan diberi kerbau yang sudah mati. Di luar perkiraan ke-7 orang itu, Syech Jangkung menerima tawaran mereka.
Lalu
berangkatlah mereka bersama menuju tempat kerbau mati. Syech Jangkung lantas
menatap seonggok kerbau yang sudah tidak bergerak-gerak itu. Badannya sangat
besar dengan tanduk yang sudah melengkung. Melihat kerbau itu, Syech Jangkung
lantas sholat dan meminta kepada Allah agar kerbau itu dihidupkan kembali. “
Sekarang bangunlah, ” ujar Syech Jangkung sambil mengelus-elus tanduk kerbau
itu. Aneh bin ajaib, tiba-tiba kerbau itu mengibaskan ekornya menandakan dia
hidup kembali.
Tahu
kejadian ajaib itu serta merta ke-7 orang yang semula meremehkan diri Syech
Jangkung langsung bersujud untuk menyampaikan permintaan maafnya. Sejak itu
Syech Jangkung membuka perkampungan di tempat ke-7 orang tersebut. Yang lantas
dikenal dengan nama Desa Landoh, Kecamatan Kayen, Pati. Apalagi setelah kabar
Syech Jangkung menghidupkan kerbau yang telah mati sampai akhirnya ke telinga
Sultan Agung. Yang lantas mengirimnya dua ekor kebau. Dari sini tekad Syech
Jangkung mendiami desa Landoh yang mantap. Akhirnya, dia memilih menjadi
seorang petani di desa tersebut.
Sebelum
meninggal dunia, Syech Jangkung berpesan agar kelak kerbau itu disembelih dan
dibagikan kepada seluruh penduduk. Tapi, ketika ia meninggal dunia, kerbau itu
menghilang dan baru muncul pada hari ke 40. Oleh anaknya, kerbau itu disembelih
dan dibagikan kepada penduduk Landoh. Sementara itu, kulitnya ( lulang)
disimpan dengan rapi.
Suatu ketika ada seorang pedagang yang kehilangan sabuk pengikat barang dagangan. Ia mengadu kepada Tirtokusumo, anak Syech Jangkung yang akhirnya memberikan lulang kerbau peninggalan ayahnya. Namun, di pinggir kampung sapi yang mengenakan lulang kerbau itu mengamuk. Tak seorang pun yang berhasil pembunuhnya. Anehnya, sapi itu tiba-tiba menjadi kebal terhadap senjata.
Suatu ketika ada seorang pedagang yang kehilangan sabuk pengikat barang dagangan. Ia mengadu kepada Tirtokusumo, anak Syech Jangkung yang akhirnya memberikan lulang kerbau peninggalan ayahnya. Namun, di pinggir kampung sapi yang mengenakan lulang kerbau itu mengamuk. Tak seorang pun yang berhasil pembunuhnya. Anehnya, sapi itu tiba-tiba menjadi kebal terhadap senjata.
Ketika
sapi itu kelelahan, Tirokusumo mengambil lulang kerbau. Dan, sapi itupun dengan
mudah bisa dibunuh dengan tombak. Dari kejadian tersebut, akhirnya masyarakat
yakin jika Lulang Kebo Landoh adalah jimat sakti untuk kekebalan. Tirtokusumo
kemudian membagikan lulang-lulang itu ( dalam ukuran kecil, red) kepada penduduk
Desa Landoh, termasuk Sultan Agung. Scml
Tidak ada komentar:
Posting Komentar