![]() |
| Gerbang Memasuki Kota Wonogiri |
Tabir.com. Pada zaman Kerajaan Demak ada seorang pertapa sakti bernama
Ki Kesdik Wacana. Dia tinggal menyendiri di salah satu gua yang termasuk dalam
jajaran Pegunungan Seribu. Pegunungan ini dikelilingi hutan yang penuh dengan
pepohonan lebat dan alam yang indah. Tidak heran jika penguasa Demak pada waktu
itu menjadikan sebagai hutan wisata raja dan tempat perburuan binatang.
Pada waktu-waktu tertentu, datanglah
rombongan raja dengan pengiring dan senopatinya. Mereka berburu binatang,
terutama Rusa. Sebagian hasil dari perburuan itu ada yang dihabiskan di tempat
dan sebagian lagi biasanya dibawa kembali ke istana. Bekas tempat pesta pora
itu pada akhirnya menjadi sebuah desa yang sekarang dinamakan Desa Senang, yang
berarti tempat untuk bersenang-senang. Sampai sekarang desa itu masih ada.
Pada suatu ketika Raja Demak
mengirimkan seorang utusan bernama Raden Panji untuk menemui pertapa Ki Kesdik
Wacana. Melalui utusannya, Raja meminta kepada Ki Kesdik Wacana untuk membawa
beberapa ekor rusa untuk dijadikan sebagai binatang peliharaan di Istananya. Ki
Kesdik Wacana menyanggupi permintaan Raja.
Dengan kesaktiannya Ki Kesdik Wacana
memasukkan rusa-rusa itu dalam bumbung, rongga pada ruas pohon bambu petung dan
kemudian disumbat. Bumbung tersebut kemudian diserahkan kepada Raden Panji
disertai dengan pesan khusus.
"Raden Panji, bumbung ini
berisi rusa-rusa yang dikehendaki oleh sang Prabu. Sengaja aku masukkan ke
dalam bumbung ini supaya Raden Panji mudah membawanya. Lagi pula perjalanan
dari sini ke Keraton cukup jauh. Namu ingat pesanku, jangan coba-coba sekalipun
membuka isi dari bumbung tersebut sampai bumbung tersebut telah ada di hadapan
Raja."
"Terima kasih bapak pertapa,
saya akan selalu ingat pesan itu" kata Raden Panji dengan penuh hormat.
Dalam perjalanan pulang kembali ke
Demak, pikiran Raden Panji dipenuhi oleh berbagai macam pertanyaan yang tidak
bisa terjawab oleh Raden Panji sendiri. Menurut dia tidaklah masuk akal
rusa-rusa yang diminta oleh sang Prabu dimasukkan ke bumbung ini. Ini sangat
tidak logis.
Meskipun begitu, Raden Panji tetap
ingat pesan Ki Kesdik Wacana untuk tidak membuka bumbung itu sampai di hadapan
Raja. Raden Panji pun akhirnya membatalkan keinginannya untuk membuka bumbung
tersebut.
Dalam perjalanan pulang, karena
lelah Raden Panji singgah sebentar di sebuah hutan jati yang lebat. Saat
melepas lelah, pandangan Raden Panji terus memandang bumbung tersebut dengan
perasaan heran. Karena terus memandang bumbung tersebut, akhirnya Raden Panji
membuka bumbung tersebut untuk mengetahui isinya.
Namun ketika sumbat bumbung dibuka, Raden Panji kaget bukan kepalang melihat kejadian aneh. Dalam keadaaan yang masih terbengong, tiba-tiba dari bumbung tersebut keluar hewan kecil yang makin lama makin membesar. Ternyata hewan-hewan itu adalah rusa-rusa yang berjumlah 16 ekor atau 8 pasang. Dan kesemuanya dengan cepat segera masuk ke hutan kembali.
Raden Panji yang segera sadar dari
kekagetannya itu, langsung segera berlari cepat ke hutan untuk mengejar
rusa-rusa itu sampai kopiahnya jatuh ke tanah. Namun beliau tidak menghiraukan
kejadian tersebut. Walau usahanya untuk mengejar rusa-rusa itu sia-sia.
Bukan main sedih dan menyesal hati
Raden Panji akibat kecerobohannya itu. Raden Panji hanya bisa jatuh tertunduk
malu dan lesu. Tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Mau balik ke Demak takut
terken murka Raja. Mau kembali tempat pertapaan Ki Kesdik Wacana takut terkena
makian.
Untunglah Ki Kesdik Wacana yang
sakti dapat segera mengetahui peristiwa itu. Oleh karena itu Ki Kesdik segera
menyusulnya. Dalam perjalanan menyusul Raden Panji, Ki Kesdik sempat menemukan
kopiah Raden Panji yang terjatuh. Pertapa sakti itu pun berkata, wahai bumi dan
langit saksikanlah bahwa tempat ini sejak saat ini aku beri nama Wana Kethu.
Jadilah tempat itu sampai sekarang bernama Wana Kethu. 'Wana' berarti hutan dan
'Kethu' artinya kopiah.
Tidak berapa lama Ki Kesdik Wacana
segera menemukan tempat Raden Panji. Melihat kehadiran Ki Kesdik Wacana, Raden
Panji pun sangat kaget.
"Mohon ampun bapak, hamba telah
berbuat lancang membuka sumbat bumbung itu dan mengakibatkan hewan-hewan yang
ada di dalam bumbung itu keluar semua. Sekarang hamba pasrah menerima hukuman
dari bapak pertapa" kata Raden Panji bersedih.
Mendengar pengakuan Raden Panji,
sang pertapa merasa kasihan tetapi yang bersalah tetap harus menerima hukuman.
"Raden Panji, ketahuilah bahwa
sesungguhnya kamu adalah utusan raja yang telah diberi amanat. Sayang sekali
kamu tidak dapat melaksanakan amanat itu. Oleh karena itu kamu tetap mendapat
hukuman. Mulai sekarang, janganlah kamu berwujud manusia, tetapi jadilah kamu
seekor Rusa Wulung penunggu hutan jati ini" kata Bapak Pertapa
Begitu selesai ucapan bapak pertapa
itu, seketika tiba-tiba dunia menjadi gelap gulita dan di langit terdengar
suara petir menyambar-nyambar. Semua seakan menjadi saksi atas segala ucapan
bapak pertapa.
Memang benar keadaanya. Secara
mendadak Raden Panji yang asalnya manusia berubah menjadi rusa jantan yang
sangat gagah dengan bulu wulungnya. Raden Panji yang sudah berubah menjadi rusa
itu menangis dan bersimpuh di hadapan pertapa sakti tersebut.
"Hukuman ini terlampau berat
bagi Hamba, Bapak. Mohon bapak sudi mencabutnya," ratap rusa wulung
penjelmaan Raden Panji.
Namun penyeselana tinggal
penyesalan, Raden Panji harus mengalami kehidupan baru sebagai pemimpin
pasangan rusa yang dahulu dilepasnya di Wana Kethu.
Sesudah peristiwa di Wana Kethu itu,
Ki Kesdik Wacana naik ke atas bukit kecil tak jauh dari situ. Sesampai di
puncak bukit itu, ia berhenti sesaat untuk mengagumi keindahahan alam di
bawahnya.
"Bukit ini begitu indah. Besok
kalau ada keadaan zama sudah ramai, bukit ini aku namai dengan Gunung Giri.
sedangkan sungai yang mengalir dibawahnya aku namakan Sungai Wahyu. Sekarang
nama sungai ini adalah Bengawan Solo." kata Ki Kesdik Wacana
Pada suatu ketika dalam kesempatan
yang lain, Sunan Giri dalam pengembaraanya sampai di
tempat yang dahulu dikunjungi Ki
Kesdik Wacana. Sama dengan Ki Kesdik Wacana, Sunan Giri juga mengagumi
keindahan alam hutan yang sangat luas dengan alamnya yang berbukit-bukit. Sunan
Giri pun berkata "Besok kalau ada keramaian zaman, tempat ini aku namai
Wonogiri".
Wono atau Wana berarti 'hutan',
sedangkan Giri berarti 'Gunung'. Demikianlah tempat yang berhutan lebat dan
bergunung-gunung itu sampai sekarang bernama Wonogiri yang terletak di Propinsi
Jawa Tengah.
Hutan Donoloyo
Padamulanya Donoloyo adalah nama sebuah hutan yang berada di tepian hulu
Bengawan Solo. Kemudian nama inilah yang digunakan oleh masarakat sekitar hutan
itu untuk menyebut seorang laki-laki yang terkenal santun dan bijak lagi sakti
yang kemudian babat alas (membabat hutan) untuk ia diami kelak bersama
keluarganya. Orang-orang sekitar hutan itu menyebutnya Ki Ageng Donoloyo.
Ki Ageng (sebutan untuk orang yang
dihormati di suatu desa) Donoloyo adalah seorang laskar
Majapahit yang tertinggal dari
pasukannya di daerah Wonogiri sebelah timur, tepatnya di desa Sambirejo
kecamatan Slogohimo sehingga ia memutuskan untuk tidak kembali dan menetap di
wilayah itu (ada yang berpendapat hal ini diperkirakan oleh pengaruh raja
mereka, Airlangga yang memutuskan meninggalkan kerajaan untuk mencari keabadian
dengan bertapa, namun ada pula versi lain yang mengatakan bahwa mereka berdua
tidak pulang ke Majapahit akibat terjadi peperangan saudara dan desakan dari
kerajaan Islam Demak).
(Menurut versi lain pula banyak
orang mengatakan bahwa Ki Ageng masih kerabat dekat dengan Airlangga, penguasa
Majapahit ketika itu yang mana kemudian memberikan sebuah wilayah untuk
dikembangkan menjadi sebuah desa layaknya Gajah Mada).
Ketika tertinggal ia tidak sendiri
melainkan ia bersama seorang laskar lain yang kelak dinamakan oleh orang-orang
sekitarnya dengan nama Ki Ageng Sukoboyo. Namun kemudian mereka memutuskan
untuk berpisah mencari wilayah sendiri-sendiri untuk mereka jadikan tempat
menepi dan kelak pada akhirnya berkeluarga. Ki Ageng Donoloyo menuju ke selatan
sementara Ki Ageng Sukoboyo menuju ke utara di hutan Sukoboyo setelah terjadi
pertengkaran kecil di tengah-tengah wilayah yang kemudian kelak mereka diami.
Ki Ageng Sukoboyo mempunyai watak yang keras sementara Ki Ageng Donoloyo
sebaliknya.
Setelah beberapa tahun kemudian Ki
Ageng Donoloyo dicari oleh seorang kakak perempuannya. Hingga pada akhirnya
suatu saat kakak Ki Ageng Donoloyo itu dipersunting oleh Ki Ageng Sukoboyo. Hal
inilah yang kemudian mempererat kembali ikatan di antara keduanya meski pada mulanya
mereka sempat berseteru memperebutkan tempat menepi.
Masalah kedua pun muncul (kelak
masalah ini merenggangkan kembali persaudaraan mereka) ketika Ki Ageng Donoloyo
ingin mengunjungi kakak perempuannya setelah sekian lama tidak bertemu.
Kejadian ini adalah ketika Ki Ageng Donoloyo hendak pulang ke daerahnya, ia
terpaku pada sekitar kediaman Ki Ageng Sukoboyo yang tumbuh beberapa pohon Jati
besar, tinggi menjulang. Ia tidak tahu sebelumnya kalau di sekitar rumah kakak
iparnya itu tumbuh pohon yang belum ia temui selama hidupnya. Pohon itu seperti
mengeluarkan sinar.
Terbersit kemudian dalam hatinya
untuk bertanya pohon apakah itu kepada Ki Ageng Sukoboyo. Kamudian dijelaskan
bahwa pohon itu bernama pohon “jati” pohon yang memiliki batang kayu
berkualitas paling baik (sejatinya kayu) di Kedhuang Ombo (tanah Jawa), dan
tidak sembarang orang boleh menanamnya. Mendengar penjelasan itu Ki Ageng
Donoloyo sangat tertarik untuk meminta klentheng (biji kayu jati) untuk ia
tanam di daerahnya. Namun ketika ia mengutarakan niatnya itu, justru ia
mendapatkan tolakan.
Ki Ageng Sukoboyo marah-marah tak
terkira mendengar permintaan Ki Ageng Donoloyo. Namun dengan sabar Ki Ageng
Donoloyo hanya menunduk dan diam mendapatkan semprotan marah kakak iparnya itu.
Lantas ia pun berpamitan untuk kembali ke niatnya semula yakni pulang ke
daerahnya (kelak disebut hutan Donoloyo).
Sesampainya di tengah perjalanan ia
tercengang keget ketika kakak perempuannya (istri Ki Ageng Sukoboyo)
meneriakinya dari belakang. Ia pun berhenti dan menoleh. Sang kakak menghampiri
dan berkata bahwa ia telah mendengar percakapannya dengan Ki Ageng Sukoboyo dan
juga permintaan tersebut. Sang kakak menyarankan agar ia satu purnama lagi
kembali dan membawa tongkat dari bambu uluh (jenis bambu paling kecil yang
biasa dipakai sebagai tempat membran terompet tahun baru) untuk menyembunyikan
biji jati dengan cara menghunjamkan tongkat itu di atas klentheng / biji jati
sehingga biji tersebut akan masuk dengan sendirinya. Sang kakak melarangnya untuk
waktu dekat ia kembali lagi ke rumahnya sebab ia khawatir Ki Ageng Sukoboyo
masih merasa tersinggung dan menyimpan marah dengan permintaan adiknya tempo
hari.
Dan sampailah satu purnama itu, Ki
Ageng Donoloyo akhirnya berhasil mencuri dua biji jati dari pekarangan Ki Ageng
Sukoboyo meski ketika itu mereka berdua bersama-sama tampak asik berjalan-jalan
sembari bercakap-cakap di bawah pohon jati kesayangan Ki Ageng Sukoboyo.
Meski berhasil mencuri dua biji klentheng dan merasa yakin jika Ki Ageng Sukoboyo tidak mengetahui tindakan culasnya ini ia masih saja gugup, dan hal ini membuatnya pulang dengan tergesa-gesa dan membuat sepasang kakinya sedikit berlari.
Meski berhasil mencuri dua biji klentheng dan merasa yakin jika Ki Ageng Sukoboyo tidak mengetahui tindakan culasnya ini ia masih saja gugup, dan hal ini membuatnya pulang dengan tergesa-gesa dan membuat sepasang kakinya sedikit berlari.
Sampailah kemudian ia di hutan Denok
(sekarang desa Made). Ia beristirahat di bawah pohon bulu (semacam beringin)
yang rindang. Di situlah kemudian satu biji terjatuh dan tumbuh besar dengan
dililit pohon bulu (pohon jati berada tepat di tengah lilitan pohon bulu
sehingga terlihat unik, tampak seperti pohon bulu yang merangkul pohon jati).
Jati itu kemudian dinamakan jati Denok. Sementara satu biji kemudian ditanam di
hutan Donoloyo yang kelak dinamakan Jati Cempurung, yang juga kemudian
dipercayai digunakan sebagai soko guru pembangunan masjid Demak kali pertama.
Jati Cempurung ini memiliki keunikan yakni sore ditanam paginya sudah tumbuh
dengan berdaun dua. Maka tidak heran jika kemudian konon jati ini tumbuh dengan
cepat dan besar sehingga bayang-bayangnya ketika pagi sampai di tengah
alun-alun Demak.
Maka semenjak itulah ketika jati
Cempurung sudah beranak-pinak Ki Ageng Donoloyo melarang warga sekitar hutan
Donoloyo untuk membawa atau menjual pohon jati dari Donoloyo kepada orang-orang
di utara jalan (sekarang jalan raya Wonogiri-Ponorogo yang dipercayai sebagai
tempat pertengkaran pertama kali antara Ki Ageng Donoloyo dengan Ki Ageng
Sukoboyo ketika berebut tempat untuk menepi) sebab hal itu akan berdampak
kematian, kayu jati itu dengan sendirinya akan berubah menjadi jengges tenung
(santhet) pada yang membawa (mengangkut) dan yang menjualnya.
Konon pula kemudian Jati yang
berasal dari hutan Donoloyo semua memiliki ciri growong di tengah batangnya
meskipun sedikit, sebab hal ini dikarenakan induknya (Jati Cempurung) adalah
dari hasil mencuri. Selain itu keunikan lainnya adalah adanya suatu cerita yang
mengatakan bahwa ketika keraton Surakarta membutuhkan dua batang pohon jati
yang berasal dari hutan Donoloyo dapat kembali lagi ke asalnya setelah seorang
ndalem (kerabat keraton) mencemoohnya. Jati itu kembali ke sisi hutan Donoloyo
paling barat, tepatnya di desa Pandan (dan dua batang pohon jati itu sampai
sekarang masih ada. Orang-orang mempercayai dua batang pohon jati yang
tergeletak di pinggir sebuah sawah di desa Pandan itu adalah Jati yang kembali
akibat dicemooh orang nDalem Keraton Surakarta).
Jati Cempurung dan Masjid Demak
Ki Ageng Donoloyo sangat takjub dengan pertumbuhan jati yang ditanamnya ini. Pohon jati itu tumbuh dengan luar biasa. Dengan waktu yang tidak lama pohon jati itu tumbuh besar menjulang tinggi. Pohon jati itu memberinya kebanggaan luar biasa. Setiap hari ia memandangnya sembari memanjakan burung perkutut putih kesukaanya sembari pula menghisap candu dengan pipa panjang yang dihisap dari samping bersama anak-anak dan istrinya (versi lain mengatakan bahwa Ki Ageng Donoloyo tidak beristri). Sesekali sembari menikmati pohon jati itu Ki Ageng menanggap ledhek mbarang (orkes keliling) jika kebetulan lewat.
Ki Ageng Donoloyo sangat takjub dengan pertumbuhan jati yang ditanamnya ini. Pohon jati itu tumbuh dengan luar biasa. Dengan waktu yang tidak lama pohon jati itu tumbuh besar menjulang tinggi. Pohon jati itu memberinya kebanggaan luar biasa. Setiap hari ia memandangnya sembari memanjakan burung perkutut putih kesukaanya sembari pula menghisap candu dengan pipa panjang yang dihisap dari samping bersama anak-anak dan istrinya (versi lain mengatakan bahwa Ki Ageng Donoloyo tidak beristri). Sesekali sembari menikmati pohon jati itu Ki Ageng menanggap ledhek mbarang (orkes keliling) jika kebetulan lewat.
Hingga pada akhirnya datanglah
utusan Raden Patah dari kerajaan Demak menemui Ki Ageng Donoloyo untuk membeli
pohon jati yang ditanamnya itu berapapun harganya. Ki Ageng Donoloyo pun
memperbolehkannya, tapi ia tidak meminta apa-apa sebagai gantinya. Ia hanya
meminta sebuah sarat “Lemah Kedhuang Ombo yen ono pagebluk njaluk kalis lan ojo
kanggo papan peperangan : tanah Jawa ini jika ada paceklik maka segeralah bisa
diatasi dan jangan dijadikan sebagai ajang peperangan.” Maka segeralah utusan
itu ke Demak dan menyampaikan sarat Ki Ageng kepadanya. Maka Raden Patah pun
menyanggupinya.
Raden Patah pun mengutus beberapa
dari Wali Songo untuk menebang jati Cempurung. Sebelum menebang para wali itu
berembug di sebuah desa mengenai penebangan hingga cara membawa kayu jati itu
ke Demak sebab ukuran pohon jati yang luar biasa besarnya (sekarang desa tempat
berembug para Wali itu dinamakan desa Pule kecamatan Jatisrono, yang berasal
dari kata “Ngumpule” yang berarti berkumpul untuk berembug). Kemudian
disepakatilah cara mengangkut Jati Cempurung itu setelah ditebang yakni dengan
cara dihanyutkan di hulu sungai Bengawan Solo (tepat persis di belakang punden)
ketika musim penghujan. Konon pula setelah Jati Cempurung itu ditebang batang
paling ujung/ pucuk jatuh di sebuah desa di kecamatan Sidoarjo yang berjarak
kurang lebih 18 km sehingga desa itu dinamakan desa Pucuk.
Setelah penebangan Jati Cempurung itulah menurut banyak orang kemudian Ki Ageng Donoloyo sudah tak tampak lagi di kediamannya. Banyak orang mempercayainya Ki Ageng telah moksa, hilang bersama raganya.
Setelah penebangan Jati Cempurung itulah menurut banyak orang kemudian Ki Ageng Donoloyo sudah tak tampak lagi di kediamannya. Banyak orang mempercayainya Ki Ageng telah moksa, hilang bersama raganya.
Sejarah Kabupaten Wonogiri
Sejarah lahirnya pemerintahan di Wonogiri tidak terlepas dari peran Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyowo. Demikian pula mythos ataupun legenda di Wonogiri juga lebih banyak berlatar belakang perjuangan Pangeran Sambernyowo. Namun wilayah Wonogiri telah terdapat kebudayaan yang berkembang pada masa-masa sebelumnya.
Sejarah lahirnya pemerintahan di Wonogiri tidak terlepas dari peran Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyowo. Demikian pula mythos ataupun legenda di Wonogiri juga lebih banyak berlatar belakang perjuangan Pangeran Sambernyowo. Namun wilayah Wonogiri telah terdapat kebudayaan yang berkembang pada masa-masa sebelumnya.
Masa Prasejarah
Di Kabupaten
Wonogiri terdapat berbagai bukti temuan artefact di beberapa goa di Kabupaten
Wonogiri. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa di wilayah Kabupaten Wonogiri
pernah menjadi peradaban pada masa pra sejarah.
Masa Klasik.
Di wilayah Wonogiri
ditemukan Candi Bendo Kasur. Namun dari temuan ini-pun belum menggambarkan
aliran agama. Hal tersebut dikarenakan kondisi candi yang sudah aus dan tinggal
pondasi. Selain itu juga terdapat patung Ganesha. Patung Ganesha tersebut mampu
menggambarkan bahwa Kabupaten Wonogiri pada masa klasik beragama Hindu Shiwa.
Masa Islam
Masa Kerajaan Demak Sejarah Wonogiri pada masa Islam muncul pada masa Kerajaan Demak. Pada tahun 1478 M merupakan pergantian Kadipaten Bintaro menjadi sebuah kasultanan yang bernama Kasultanan Demak Bintoro. Sejak Kerajaan Majapahit runtuh, maka banyak kadipaten-kadipaten kecil yang semula merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit akhirnya bergabung dengan Kasultanan Demak.
Masa Kerajaan Demak Sejarah Wonogiri pada masa Islam muncul pada masa Kerajaan Demak. Pada tahun 1478 M merupakan pergantian Kadipaten Bintaro menjadi sebuah kasultanan yang bernama Kasultanan Demak Bintoro. Sejak Kerajaan Majapahit runtuh, maka banyak kadipaten-kadipaten kecil yang semula merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit akhirnya bergabung dengan Kasultanan Demak.
Seiring dengan berdirinya Kasultanan
Demak, Raden Patah sebagai pemegang tampuk kepemimpinan menitahkan untuk
membangun sebuah Masjid Agung yang digunakan untuk beribadah dan tempat
pertemuan / silaturahmi. Dari sumber tradisional yang berupa cerita babad
maupun legenda diketahui bahwa Masjid Agung Demak sangat berperan dalan sejarah
masuk dan berkembangnya Islam di Pulau Jawa, bahkan pengaruhnya terasa sampai
di luar Pulau Jawa seperti Malaysia. Konon Masjid Agung Demak ini dibuat oleh
para Wali yang tergabung dalam Wali Songo dan digunakan untuk tempat pertemuan
saat membicarakan soal-soal keagamaan dan masalah Islam lainnya. Cerita legenda
yang bersifat simbolis mengisahkan bahwa Masjid Agung Demak dibuat oleh para
Wali dalam 1 (satu) malam.
Keempat saka guru Masjid Agung Demak
merupakan sumbangan dari 4 (empat) wali yaitu Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan
Gunung Jati dan Sunan Kalijaga. Sedangkan saka berukir yang dipasang di serambi
masjid dipercaya berasak dari Kerajaan Majapahit dan disebut “Saka Majapahit”.
Sehubungan dengan hal tersebut, Kabupaten Wonogiri memiliki peran yang sangat
penting.
![]() |
| Bendungan Serbaguna, Wonogiri |
Seperti wali yang lainnya, Sunan Giri segera melaksanakan tugasnya
untuk mencari kayu jati. Beliau mencari kayu jati ke arah selatan menyusuri
Sungai Bengawan Solo. Dikisahkan sepanjang perjalanan selalu melewati hutan dan
gunung. Sampailah perjalanan Sunan Giri di sebuah hutan di sebuah gunung yang
penuh dengan Pohon Jati. Melalui ijin dari Ki Donosari si pemilik hutan
tersebut, Sunan Giri memilih pohon jati yang sangat tua yang tinggi, besar dan
lurus.
Untuk memudahkan cara pengangkutan kayu jati tersebut dihanyutkan
melalui Sungai Kedawung yang bermuara di Sungai Bengawan Solo. Di sini terdapat
cerita legenda bahwa saat mengangkut kayu ke sungai Kedawung, Ki Donosari
memerintahkan sinden untuk naik di atas kayu dan melantunkan tembang mocopat.
Anehnya, kayu terasa lebih ringan dan mudah dibawa. Sesampainya di Sungai
Kedawung, Sunan Giri memberi nama daerah tersebut
“Wonogiri”, karena sepanjang jalan
yang dilihatnya hanya hutan dan gunung. Dalam perjalanannya Sunan Giri melewati
sebuah gunung. Di sana menemui orang yang selalu membuntuti dari Bintaro. Maka
Sunan Giri memerintahkan untuk menunggui daerah tersebut dan memberi nama
daerah tersebut “Gunung Giri” yang berarti bukit kecil yang ditumbuhi pohon
jati. Pada masa Kerajaan Mataram Islam di daerah ini didirikan astana para
kerabat keraton.
b. Masa Kerajaan Mataram (Kartasura)
Perkembangan organisasi pemerintahan pada masa Islam di Wonogiri dimulai di
Nglaroh, salah satu daerah yang pada masa sekarang masuk dalam wilayah Desa
Pule, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri. Berdasar pada temuan watu gilang
yang konon merupakan tempat duduk Pangeran Samber Nyawa atau Raden Mas Said.
Tempat tersebut juga dipercaya
sebagai lahirnya pemerintahan di Wonogiri. Raden Mas Said
adalah salah satu pangeran dari
Kerajaan Mataram (Kartasura) yang mengasingkan diri karena ketidakadilan di
dalam keraton. Raden Mas Said lahir di Kartasuro pada hari Minggu Legi, tanggal
4 Ruwah 1650 tahun Jimakir, Windu Adi Wuku Wariagung, atau bertepatan dengan
tanggal Masehi 8 April 1725. Raden Mas Said merupakan putra dari Kanjeng
Pangeran Aryo Mangkunegoro dan Raden Ayu Wulan yang wafat saat melahirkannya.
Sementara itu saat usia 2 tahun sudah ditinggal ayahnya Pangeran Ario
Mangkunegoro,
Salah satu raja Mataram (Kartasura)
karena diasingkan oleh pemerintah Belanda di bawah perintah Kapitan Van
Hogendorff di Cailon (Srilanka) dalam rangka memecah belah persatuan di tubuh
keraton dan digantikan oleh PB II. Hal itu karena ulah keji berupa fitnah dari
Kanjeng Ratu dan Patih Danurejo. Akibatnya, Raden Mas Said mengalami masa kecil
yang jauh dari selayaknya seorang bangsawan Keraton.
Raden Mas Said menghabiskan masa
kecil bersama anak-anak para abdi dalem lainnya, sehingga mengerti betul
bagaimana kehidupan kawula alit. Di lain pihak, RM Said merupakan cucu dari Mas
Sumarsono (istri PB II) yang berasal dari Nglaroh, Wonogiri. Pada usia 13
tahun, RM. Said diberi jabatan sebagai Manteri Anom dengan sebutan RM. Suryokusumo,
sejajar dengan Abdi Dalem Menteri. Perlakuan ini dianggap semena-mena, karena
RM. Said seharusnya menjadi Pangeran Sentana. Sehingga RM. Said tidak menyukai
sikap PB II yang selalu tunduk kepada aturan Belanda .
Hingga pada hari Rabu Kliwon, tanggal
3 Rabiulawal (Mulud) Windu Sengara, 1666 Tahun Jawa atau tanggal 19 Mei 1741 M,
RM. Said yang didampingi neneknya BRA. Kusumonarso beserta pengikutnya
meninggalkan istana menuju Dusun Nglaroh, Wonogiri guna menyusun kekuatan
melawan pasukan Kapitan Van Hogendorff (bukan PB II). Hari yang sama rombongan
telah sampai tujuan dan langsung membangun pusat pemerintahan beserta
perlengkapannya (institusi pemerintah) yang terdiri dari RM. Sutowijoyo sebagai
senopati dan Ki Wirodiwongsi (warga setempat) sebagai patih serta 22 orang
sebagai prajurit. Dalam mengendalikan perjuangannya, Raden Mas Said
mengeluarkan semboyan yang sudah menjadi ikrar sehidup semati yang terkenal
dengan sumpah “Kawulo Gusti” atau “Pamoring Kawulo Gusti” sebagai pengikat tali
batin antara pemimpin dengan rakyatnya, luluh dalam kata dan perbuatan, maju
dalam derap yang serasi bagaikan keluarga besar yang sulit dicerai-beraikan
musuh. Ikrar tersebut berbunyi “tiji tibeh, mati siji mati kabeh, mukti siji
mukti kabeh”. pasukan inti kemudian berkembang menjadi perwira-perwira perang
yang mumpuni dengan sebutan Punggowo Baku Kawandoso Joyo. c. Pemerintahan di
Nglaroh Pemerintahan yang dibangun oleh RM. Said di Dusun Nglaroh diawali tepat
pada hari Rabu Kliwon, Tanggal 3 Rabiul Awal Tahun 1666 dengan candra sengkala
“Roso Retu Ngoyeg Jagad” atau bertepatan dengan tanggal 19 Mei 1741 M dengan
surya sengkala “Kahutaman Sumebaring Giri Linuwih”. Bentuk pemerintahan di
Dusun Nglaroh masih sangat terbatas
dan sangat sederhana dan dikemudian hari menjadi simbol semangat pemersatu
perjuangan rakyat. Tanggal ini pula yang dijadikan hari jadi Kabupaten
Wonogiri. Inisiatif untuk menjadikan Wonogiri (Nglaroh) sebagai basis
perjuangan Raden mas Said, adalah dari rakyat Wonogiri sendiri ( Wiradiwangsa)
yang kemudian didukung oleh penduduk Wonogiri pada saat itu.
Raden Mas Said juga menciptakan
suatu konsep manajemen pemerintahan yang dikenal sebagai Tri Darma yaitu :
1. Mulat Sarira Hangrasa Wani,
artinya berani mati dalam pertempuran karena dalam pertempuran hanya ada dua
pilihan hidup atau mati. Berani bertindak menghadapi cobaan dan tantangan meski
dalam kenyataan berat untuk dilaksanakan. Sebaliknya, disaat menerima anugerah
baik berupa harta benda atau anugerah lain, harus diterima dengan cara yang
wajar. Hangrasa Wani, mau berbagi bahagia dengan orang lain.
2. Rumangsa Melu Handarbeni, artinya
merasa ikut memiliki daerahnya, tertanam dalam sanubari yang terdalam, sehingga
pada akhirnya pada akhirnya akan menimbulkan perasaan rela berjuang dan bekerja
untuk daerahnya. Merawat dan melestarikan kekayaan yang terkandung didalamnya.
3. Wajib Melu Hangrungkebi, artinya
dengan merasa ikut memiliki timbul kesadaran untuk berjuang hingga titik darah
penghabisan untuk tanah kelahirannya.
D. MASA KOLONIAL
a. Kondisi Wonogiri saat akhir
Keraton Mataram (Kartasura) Pada tahun 1741 M, pada saat perjalanan RM. Said
dan rombongan menuju Dusun Nglaroh, Daerah Wonogiri belum terjamah Belanda.
Berdasar dari sebuah kisah, bahwa sepanjang jalan menuju Nglaroh suasananya
sangat nyaman dan tentram. Namun masyarakat setempat mengetahui keberadaan
Kolonial Belanda di Surakarta (Pusat pemerintahan) dan bersikap membenci
terhadap kolonial Belanda. Hal ini sangat menguntungan RM. Said dalam rangka
menyusun kekuatan untuk menentang kolonial Belanda.
b. Perjuangan RM. Said Melawan
Penjajah Kegigihan Raden Mas Said dalam memerangi musuh-musuhnya sudah tidak
diragukan lagi, bahkan hanya dengan prajurit yang jumlahnya sedikit, tidak akan
gentar melawan musuh.
Raden Mas Said merupakan panglima
perang yang mumpuni, terbukti selama hidupnya sudah melakukan tidak kurang 250
kali pertempuran dengan tidak menderita kekalahan yang berarti. Dari sinilah
Raden Mas Said mendapat julukan
“Pangeran Sambernyawa” karena
dianggap sebagai penebar maut (Penyambar Nyawa) bagi siapa saja musuhnya pada
setiap pertempuran. Cerita tentang perjuangan RM. Said tertuang dalam cerita
rakyat. Dikisahkan terjadi pertempuran di Dusun Dlepih, Tirtomoyo. Pasukan RM.
Said dikepung oleh pasukan Belanda. Semua jalan telah tertutup dan satu-satunya
jalan hanya menyeberangi sungai yang sedang banjir. Dalam menghadapi kesulitan
tersebut, RM Said mengambil tindakan menendang pohon beringin yang berada di
pinggir kali hingga roboh melintangi sungai.
Dengan segera pasukan RM. Said
meniti pohon beringin tersebut. Saat Belanda mengejar dengan jalan yang sama,
pasukan RM. Said segera menyambut dengan senjata. Dalam menghadapi perjuangan
RM. Said, Belanda mengalami kerugian besar. Pertempuran tersebut membutuhkan
dana yang sangat besar. Demikian pula pasukannya banyak yang tewas. Belanda
merasa kewalahan sehingga mencari jalan damai melalui suatu perundingan.
Berdasar Perjanjian Salatiga, RM Said dinobatkan menjadi Raja Pura
Mangkunegaran dan berhak atas tanah 6000 karya beserta daerah-daerah yang
dikuasainya terlebih dahulu.
c. Kerajaan Mangkunegaran Berkat
keuletan dan ketangguhan Raden Mas Said dalam taktik pertempuran dan bergerilya
sehingga luas wilayah perjuangannya meluas meliputi Ponorogo, Madiun dan
Rembang bahkan sampai daerah Yogyakarta. Pada akhirnya atas bujukan Sunan Paku
Buwono III, Raden Mas Said bersedia diajak ke meja perundingan guna mengakhiri
pertempuran. Dalam perundingan yang melibatkan Sunan Paku Buwono III, Sultan
Hamengkubuwono I dan pihak Kompeni Belanda, disepakati bahwa Raden Mas Said
mendapat daerah kekuasaan dan diangkat sebagai Adipati Miji atau mandiri
bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegoro I. Penetapan
wilayah kekuasaan Raden Mas Said terjadi pada tanggal 17 Maret 1757 melalui sebuah
perjanjian di daerah Salatiga.
![]() |
| Patung Semar di Wonogiri |
Kedudukannya sebagai Adipati Miji
sejajar dengan kedudukan Sunan Paku Buwono III dan Sultan Hamengkubuwono I
dengan daerah kekuasaan meliputi wilayah Keduwang (daerah Wonogiri bagian
timur), Honggobayan (daerah timur laut Kota Wonogiri sampai perbatasan
Jatipurno dan Jumapolo Kabupaten Karanganyar), Sembuyan (daerah sekitar
Wuryantoro dan Baturetno), Matesih, dan Gunung Kidul. KGPAA Mangkunegoro I
membagi wilayah Kabupaten Wonogiri menjadi 5 (lima) daerah yang masing-masing
memiliki ciri khas atau karakteristik yang digunakan sebagai metode dalam
menyusun strategi kepemimpinan, yaitu :
1. Daerah Nglaroh (wilayah Wonogiri
bagian utara, sekarang masuk wilayah kecamatan Selogiri). Sifat rakyat daerah
ini adalah Bandol Ngrompol yang berarti kuat dari segi rohani dan jasmani,
memiliki sifat bergerombol atau berkumpul. Karakteritik ini sangat positif
dalam kaitannya untuk menggalang persatuan dan kesatuan. Rakyat di daerah
Nglaroh juga bersifat pemberani, suka berkelahi, membuat keributan akan tetapi
jika bisa memanfaatkan potensi rakyat Nglaroh bisa menjadi kekuatan dasar yang
kuat untuk perjuangan.
2. Daerah Sembuyan (wilayah Wonogiri
bagian selatan sekarang Baturetno dan Wuryantoro), mempunyai karakter sebagai
Kutuk Kalung Kendho yang berarti bersifat penurut, mudah diperintah pimpinan
atau mempunyai sifat paternalistik.
3. Daerah Wiroko (wilayah sepanjang
Kali Wiroko atau bagian tenggara Kabupaten Wonogiri sekarang masuk wilayah
Kecamatan Tirtomoyo). Masyarakat didaerah ini mempunyai karakter sebagai Kethek
Saranggon, mempunyai kemiripan seperti sifat kera yang suka hidup bergerombol,
sulit diatur, mudah tersinggung dan kurang memperhatikan tata krama sopan
santun. Jika didekati mereka kadang kurang mau menghargai orang lain, tetapi
jika dijauhi mereka akan sakit hati. Istilahnya gampang-gampang susah.
4. Daerah Keduwang (wilayah Wonogiri
bagian timur) masyarakatnya mempunyai karakter sebagai Lemah Bang Gineblegan.
Sifat ini bagai tanah liat yang bisa padat dan dapat dibentuk jika
ditepuk-tepuk. Masyarakat daerah ini suka berfoya-foya, boros dan sulit untuk
melaksanakan perintah. Akan tetapi bagi seorang pemimpin yang tahu dan paham
karakter sifat dan karakteristik mereka, ibarat mampu menepuk-nepuk layaknya
sifat tanah liat, maka mereka akan mudah diarahkan ke hal yang bermanfaat.
5. Daerah Honggobayan (daerah timur
laut Kota Wonogiri sampai perbatasan Jatipurno dan Jumapolo Kabupaten
Karanganyar) mempunyai karakter seperti Asu Galak Ora Nyathek. Karakteristik
masyarakat disini diibaratkan anjing buas yang suka menggonggong akan tetapi
tidak suka menggigit.
Sepintas dilihat dari tutur kata dan
bahasanya, masyarakat Honggobayan memang kasar dan keras menampakkan sifat
sombong dan congkak serta tinggi hati, dan yang terkesan adalah sifat kasar
menakutkan. Akan tetapi mereka sebenarnya baik hati, perintah pimpinan akan
dikerjakan dengan penuh tanggungjawab. Dengan memahami karakter daerah-daerah
tersebut, Raden Mas Said menerapkan cara yang berbeda dalam memerintah dan
mengendalikan rakyat diwilayah kekuasaannya, menggali potensi yang maksimal
demi kemajuan dalam membangun wilayah tersebut.
Pada tahun 1775 M, Kasunanan
Surakarta telah jatuh di tangan kolonial Belanda dengan berdirinya Benteng
Vasternburg di dekat keraton. Wonogiri juga sedikit banyak berpengaruh dengan
keberadaan Penjajahan tersebut. Di bawah perintah Mangkunegara I, Kabupaten
Wonogiri selalu giat melawan kolonial Belanda. Raden Mas Said memerintah selama
kurang lebih 40 tahun dan wafat pada tanggal 28 Desember 1795. Setelah Raden
Mas Said meninggal dunia, kekuasaan trah Mangkunegaran diteruskan oleh
putra-putra beliau. Pada masa kekuasaan
KGPAA Mangkunegara VII terjadi
peristiwa penting sekitar tahun 1923 M yakni perubahan status daerah Wonogiri
yang dahulu hanya berstatus Kawedanan menjadi Kabupaten. Saat itu Wedana Gunung
Ngabehi Warso Adiningrat diangkat menjadi Bupati Wonogiri dengan pangkat
Tumenggung Warso Adiningrat. Akibat perubahan status ini, wilayah Wonogiri pun
dibagi menjadi 5 Kawedanan yaitu Kawedanan Wonogiri, Wuryantoro, Baturetno,
Jatisrono dan Purwantoro.
Pada saat itu di wilayah kekuasaan
Mangkunegaran dilakukan penghematan anggaran keraton dengan menghapuskan
sebagian wilayah Kabupaten yaitu Kabupaten Karanganyar sehingga wilayah
Mangkunegaran manjadi dua yaitu Kabupaten Mangkunegaran dan Kabupaten Wonogiri.
Ini berlangsung sampai tahun 1946. d. Masa Cultuur Stelsel Pada masa tanam
paksa, Pemerintah Hidia-Belanda membangun jalur rel kereta api Semarang –
Surakarta (110 Km) pada tanggal 10 Februari 1870.
Hal ini merupakan salah satu cara
agar pengangkutan hasil bumi ke Kota Semarang semakin lancar. Terkait dengan
hal tersebut, Wonogiri banyak menyumbangkan hasil buminya kepada kasunanan
Surakarta untuk diserahkan kepada Pemerintah Hindia-Belanda.
Sementara itu pengangkutan kayu dari
Wonogiri menuju Solo masih menggunakan cikar yang ditarik kuda atau sapi. Jalur
kereta api (KA) antara Solo-Wonogiri sendiri baru dibangun pada tanggal 1 April
1923 dan kemudian dioperasikan oleh Netherlands Indische Spoorwage (NIS) sebuah
perusahaan swasta Pemerintah Hindia Belanda. Panjang jalur 33 kilometer,
sebagian darinya melintas di tengah Kota Solo. Kereta api Bengawan Wonogiri
atau yang lebih dikenal dengan Kereta Feeder Wonogiri. Kereta ini lebih difungsikan
untuk kereta penumpang dengan stasiun yang terletak di Giripurwo, Wonogiri,
Wonogiri dan berketinggian +144 m dpl. e. Masa Politik Etis Untuk kepentingan
pendidikan, pada tahun 1927 pemerintah Hindia-Belanda juga mendirikan sekolah
di Wonogiri. Sejak pemerintahan Belanda menerapkan politik Etis banyak sekolah
mulai didirikan, walaupun sekolah-sekolah tersebut tidak sebanding dengan
jumlah anak usia sekolah. Sekolah-sekolah yang didirikan adalah untuk
kepentingan kolonial, baik kepentingan dalam bidang politik, ekonomi maupun
administrasi. Jadi sama sekali tidak ditujukan untuk kepentingan rakyat
Indonesia.
Pada awalnya didirikan Sekolah Bumi
Putra bagi para priyayi. Sekolah bumiputra Kelas Satu kelak menjadi Holands
Inlandse School (HIS). Namun anak keluaran HIS pada umumnya tidak dapat
diterima di sekolah yang lebih tinggi tingkatannya dalan hal ini MULO karena
kurang kepandaiannya, teutama mengenai Bahasa Belanda.
Masa Kemerdekaan
Sejak Republik
Indonesia merdeka, tanggal 17 Agustus 1945 sampai tahun 1946 di wilayah
Mangkunegaran terjadi dualisme pemerintahan, yaitu Kabupaten Wonogiri masih
dalam wilayah monarki Mangkunegaran dan di lain pihak menginginkan Kabupaten
Wonogiri masuk dalam sistem demokrasi Republik Indonesia. Timbulah gerakan Anti
Swapraja yang menginginkan Wonogiri keluar dari sistem kerajaan Mangkunegaran.
![]() |
| Watu Kosek Untuk Mengasah Pusaka R.M. Mas Said |
Akhirnya disepakati bahwa Kabupaten
Wonogiri tidak menghendaki kembalinya Swapraja Mangkunegaran. Sejak saat itu
Kabupaten Wonogiri mempunyai status seperti sekarang, dan masuk sebagai
Kabupaten yang berada diwilayah Propinsi Jawa Tengah. Sekitar tahun 1948, ada
usaha penjajah Belanda ingin berkuasa kembali dengan cara mengirimkan pasukan
lengkap dengan persenjataannya, ke wilayah Surakarta selatan untuk menguasai
Kabupaten Sukoharjo dan Wonogiri.
Menyikapi manuver tentara Belanda
itu, sejumlah pejuang TRI berinisiatif memasang tiga buah track bom di ketiga
dasar tiang jembatan agar jembatan hancur, agar tentara Belanda tidak dapat
melaju ke Wonogiri. Tapi skenario peledakan jembatan tidak berjalan sesuai
rencana. Karena hanya satu bom yang terpasang di tengah yang meledak. Dua bom
lainnya, di tiang jembatan sisi utara dan selatan, gagal meledak. Jembatan
Nguter rusak di bagian tengahnya.
Hal ini cukup menghambat laju pernyusupan
tentara Belanda ke Wonogiri. Meskipun kemudian, Belanda menempuh cara melintasi
Bengawan Solo dengan meniti jembatan kereta api (KA), dan berupaya memperbaiki
bagian tengah jembatan Nguter yang rusak oleh ledakan bom. Selesai perbaikan,
kemudian dicoba untuk lewat. Tapi dua tank tempur Belanda berserta kelengkapan
amunisinya, terjerumus ke dasar sungai Bengawan Solo. Dua tank tempur itu tidak
dapat diangkat ke atas karena terbenam lumpur. Sclm
https://www.youtube.com/channel/UCts5Ua5IehgoRev-E6-zh1A ( KI COKRO ST )




Tidak ada komentar:
Posting Komentar