Tabir.com. Sering kita dengar mengenai cerita tentang Kamandaka,
nah siapakan ia? Kamandaka adalah salah satu tokoh pada cerita Lutung Kasarung
Namun banyak juga versi cerita mengenai Kamandaka ini, mau tau? Langsung aja
simak cerita dibawah.
Sejarah Kisah Cerita Lutung Kasarung -( versi pertama )
Sejarah Kisah Cerita Lutung
Kasarung- Lutung Kasarung (artinya Lutung yang Tersesat) adalah legenda
masyarakat Jawa Barat yang menceritakan tentang perjalanan Sanghyang Guruminda
dari Kahyangan yang diturunkan ke Buana Panca Tengah (Bumi) dalam wujud seekor
lutung (sejenis monyet). Dalam perjalanannya di Bumi, sang lutung bertemu
dengan putri Purbasari Ayuwangi yang diusir oleh saudaranya yang pendengki,
(Purbararang). Lutung Kasarung adalah seekor mahkluk yang buruk secara fisik.
Pada akhirnya ia berubah menjadi pangeran dan mengawini putri Purbasari, mereka
memerintah Kerajaan Pasir Batang dan Kerajaan Cupu Mandala Ayu bersama-sama.
Sejarah Kisah Cerita Lutung Kasarung
Alkisah, Prabu Tapa Agung memutuskan untuk lengser keprabon. Dari ke-7 puteri yang dimilikinya, beliau menunjuk putri Purbasari, putri bungsunya sebagai penerus tahtakerajaan. Keputusan ini menimbulkan polemik di kerajaan karena dianggap tidak sesuai dengan tradisi, bahwa anak pertama yang akan menerima tahta. Mestinya tampuk kekuasaan jatuh pada si sulung. Sang prabu punya alasan sendiri. Si bungsu dianggap lebih berluhur budi. Menurut beliau, hanya dengan keluhuran budi seorang pemimpin dapat memerintah dengan adil.
Sepeninggal sang raja. Diam-diam si
sulung, putri Purbararang, meminta bantuan seorang sakti mandraguna
mendatangkan bala. Purbasari tiba-tiba terjangkit penyakit kulit. Desas-desus
ditiupkan oleh Purbararang, bala ini adalah buah kutukan dewata akibat ayahanda
telah menyalahi tradisi kerajaan. Demi menutup aib kerajaan, si bungsu
diungsikan ke hutan.
Sementara itu, di kahyangan, seorang
pangeran Guruminda sedang di wasiati sunan Ambu, ibunya, agar segera mencari
pendamping hidup. Di kahyangan banyak sekali putri yang cantik nan elok. Para
pohaci. Namun tidak ada satupun yang menarik hatinya. Maka, sang bunda menyuruh
ia untuk pergi ke Buana Panca Tengah (BUMI), tempat manusia bermukim. Mungkin
di sanalah engkau akan menemukan cinta sejatimu, kata sang ibunda.
Tapi bagaimana ananda bisa tahu
bahwa gadis yang hamba suka adalah cinta sejati. Sang ibunda diam sejenak, dan
memutuskan mengubah pangeran dalam wujud seekor lutung. Sang ibunda berkata,
bila gadis itu adalah cinta sejatimu, kelak melalui gadis itulah kau dapat
menjelma dalam wujud aslimu. Pangeran Guruminda.
Setelah bersembah sujud, memohon
restu sang ibunda, turunlah sang lutung ke bumi. Di sebuah hutan, ia bertemu
dengan gadis yang tubuhnya terkena penyakit kulit. Sangat buruk dan
mengeluarkan bau busuk. Tapi air muka sang putri terlihat memancarkan kebaikan
dan keteduhan. Ia dikelilingi oleh sahabat demikian banyak. Seluruh penghuni
rimba tidak ada yang menganggunya, bahkan selalu menemani dan membantunya.
Dengan cepat, lutung menjadi salah
satu sahabatnya. Sejak mengenal lutung, Sang putri tidak perlu lagi
berpayah-payah mencari makan. Setiap hari berbagai makanan sudah disediakan
oleh lutung. Tidak hanya makanan, bunga-bunga cantik selalu tersedia untuk
menghias tempat tinggal sang putri dan penghias gelung rambut indahnya.
Hari demi hari berlalu. Persahabatan
diantara mereka makin lekat. Sang putri sangat menyayangi si lutung, demikian
pula sebaliknya. Sang putri kerapkali menceritakan persoalan hidupnya kepada
lutung.
Suatu ketika, saat sang putri membawa lutung berjalan-jalan, lutung tiba-tiba berlari ke suatu tempat. Tidak mau kehilangan lutung kesayangannya, sang putri lari mengejar hingga ke sebuah danau. Di tepi danau sang putri tertegun. Terpesona akan kesegaran dan jernihnya air danau tersebut. Beliau segera mandi disana. Anehnya begitu selesai mandi, hilanglah semua penyakit kulitnya. Bahkan bertambah kemilau indah kecantikannya bagaikan intan permata. Sang puteri sangat berterima kasih pada lutung yang sudah membawanya pada danau tersebut. Karena penyakitnya sudah sembuh, puteri kembali ke istana. Tapi sang kakak yang tidak mau tahtanya diambil, malah mengajaknya adu tanding. Sang kakak membuka gelung rambutnya dan berkata bila rambut adiknya lebih panjang, ia akan menyerahkan tampuk kerajaan. Ternyata sang adik berambut lebih panjang.
Sang kakak masih tidak puas, ia
mengatakan bahwa syarat menjadi ratu harus memiliki pasangan hidup. Sang kakak
sudah memiliki pasangan: pangeran indrajaya.
Tantangan ini membuat sedih putri
Purbasari, bagaimana tidak, selama ini ia hanya bergaul dengan binatang hutan
tidak ada seorang pemudapun yang ia kenal. Dengan lirih, sang dewi berucap pada
lutung,”kamulah yang paling dekat denganku selama ini. seandainya engkau
manusia pastilah kau sudah ku jadikan pendamping hidupku”. Ucapan sang dewi
bagai mantera pelepas sihir. Seketika itu pula lutung berubah wujud, menjelma
jadi wujud asalnya saat di kahyangan, pangeran Guruminda.
Pangeran Guruminda segera menyatakan
bahwa ia adalah pendamping putri Purbasari. Dan tahta kerajaanpun di ambil alih
oleh yang semestinya, sesuai wasiat sang prabu.
VERSI KEDUA
Cerita Legenda Kamandaka si Lutung
Kasarung
Cerita ini adalah versi lain dari
Lutung Kasarung yang banyak didengar di daerah Sunda. Cerita Lutung Kasarung
ini merupakan cerita versi Pasir Luhur. Tidaklah penting mana yang benar antara
kedua versi tersebut, yang jelas, cerita-cerita ini untuk menghibur dan dipetik
pelajarannya.
Di Jawa Barat pada jaman dahulu kala
ada sebuah Kerajaan Hindu yang besar dan cukup kuat, yaitu berpusat di kota
Bogor. Kerajaan itu adalah Kerajaan “Pajajaran”, pada saat itu raja yang
memerintah yaitu Prabu Siliwangi. Beliau sudah lanjut usia dan bermaksud
mengangkat Putra Mahkotanya sebagai penggantinya.
Prabu Siliwangi mempunyai tiga orang
putra dan satu orang putri dari dua Permaisuri, dari permaisuri yang pertama
mempunyai dua orang putra, yaitu Banyak Cotro dan Banyak Ngampar. Namun sewaktu
Banyak Cotro dan Banyak Ngampar masih kecil ibunya telah meninggal.
Maka Prabu Siliwangi akhirnya kawin
lagi dengan permaisuri yang kedua, yaitu Kumudaningsih. Pada waktu Dewi
Kumuudangingsih diambil menjadi Permaisuri oleh Prabu Siliwangi, ia mengadakan
perjanjian, bahwa jika kelak ia mempunyai putra laki-laki, maka putranyalah
yang harus meggantikan menjadi raja di Pajajaran.
Dari perkawinannya dengan Dewi
Kumudaningsih, Prabu Silliwangi mempunyai seorang putra dan seorang putri,
yaitu: Banyak Blabur dan Dewi Pamungkas.
Pada suatu hari Prabu Siliwangi
memanggil Putra Mahkotanya, Banyak Cotro dan Banyak Blabur untuk menghadap,
maksudnya ialah Prabu Siliwangi akan mengangkat putranya untuk menggantikan
menjadi raja di Pajajaran karena beliau sudah lajut usia.
Namun dari kedua Putra Mahkotanya
belum ada yang mau diangkat menjadi raja di Pajajaran. Sebagai putra sulungnya
Banyak Cokro mengajukan beberapa alasan, antara lain alasannya adalah:
Untuk memerintahkan Kerajaan dia
belum siap, karena belum cukup ilmu.
Untuk memerintahkan Kerajaan seorang raja harus ada Permaisuri yang mendampinginya, sedangkan Banyak Cotro belum kawin.
Untuk memerintahkan Kerajaan seorang raja harus ada Permaisuri yang mendampinginya, sedangkan Banyak Cotro belum kawin.
Banyak Cotro mengatakan bahwa dia
baru kawin kalau sudah bertemu dengan seorang putri yang parasnya mirip dengan
ibunya. Oleh sebab itu Banyak Cotro meminta ijin pergi dari Kerajaan Pajajaran
untuk mencari putri yang menjadi idamannya.
Kepergian Banyak Cotro dari Kerajaan
Pajajaran melalui gunung Tangkuban Perahu, untuk menghadap seorang pendeta yang
bertempat di sana. Pendeta itu ialah Ki Ajar Winarong, seorang Pendeta sakti
dan tahu untuk mempersunting putri yang di idam-idamkannya dapat tercapai.
Namun ada beberapa syarat yang harus
dilakukan dan dipenuhi oleh Banyak Cotro, yaitu harus melepas dan menaggalkan
semua pakaian kebesaran dari kerajaan dengan hanya memakai pakaian rakyat
biasa. Dan ia harus menyamar dengan nama samaran “Raden Kamandaka”
Setelah Raden Kamandaka berjalan
berhari-hari dari Tangkuban Perahu ke arah Timur, maka sampailah Raden
Kamandaka kewilayah Kadipaten Pasir Luhur.
Secara kebetulan Raden Kamandaka
sampai Pasir Luhur, betemu dengan Patih Kadipaten Pasir Luhur yaitu Patih
Reksonoto. Karena Patih Reksonoto sudah tua tidak mempuunyai anak, maka Raden
Kamandaka akhirnya dijadikan anak angkat Patih Reksonoto merasa sangat bangga
dan senang hatinya mempunyai Putra Angkat Raden Kamandaka yang gagah perkasa
dan tampan, maka Patih Reksonoto sangat mencintainya.
Adapun yang memerintahkan Kadipaten
Pasir Luhur adalah “Adi Pati Kanandoho”. Beliau mempunyai beberapa orang Putri
dan sudah bersuami kecuali yang paling bungsu yaitu Dewi Ciptoroso yang belum
bersuami. Dewi Ciptoroso inilah seorang putri yang mempunyai wajah mirip Ibu
raden Kamandaka, dan Putri inilah yng sedang dicari oeh Raden Kamandaka.
Suatu kebiasaan dari Kadipaten Pasir
Luhur bahwa setiap tahun mengadakan upacara menangkap ikan di kali Logawa. Pada
upacara ini semua keluarga Kadipaten Pasir Luhur beserta para pembesar dan
pejabatan pemerintah turut menangkap ikan di kali Logawa.
Pada waktu Patih Reksonoto pergi
mengikuti upacara menangkap ikan di kali Logawa, tanpa diketahuinya Raden
Kamandaka secara diam-diam telah mengikutinya dari belakang. Pada kesempatan
inilah Raden Kamandaka dapat bertemu dengan Dewi Ciptoroso dan mereka berdua
saling jatuh cinta.
Atas permintaan dari Dewi Ciptoroso
agar Raden Kamandaka pada malam harinya untuk dating menjumpai Dewi Ciptoroso
di taman Kaputren Kadipaten Pasir Luhur tempat Dewi Ciptoroso berada. Benarlah
pada malam harinya Raden Kamandaka dengan diam-diam tanpa ijin patih Resonoto,
ia pun pergi menjumpai Dewi Ciptoroso yang sudah rindu menanti kedatangan Raden
Kamandaka.
Namun keberadaan Raden Kamandaka di
Taman Kaputren Bersama Dewi Ciptoroso tidak berlangsung lama. Karena tiba-tiba
prajurit pengawal Kaputren mengetahui bahwa di dalam taman ada pencuri yang
masuk. Hal ini kemu kemudian dilaporkan oleh Adipatih Kandandoho.
Menanggapi laporan ini, maka
Adipatih sangat marah dan memerintahkan prajuritnya untuk menangkap peencuri
tersebut. Karena kesaktian dan ilmu ketangkasan yang dimiliki oleh Raden
Kamandaka, maka Raden Kamandaka dapat meloloskan diri dari kepungan prajurit
Pasir Luhur.
Sebelum Raden Kamandaka lolos dari
Taman Kaputren, ia sempat mengatakan identitasnya. Bahwa ia bernama Raden
Kamandaka putra dari Patih Reksonoto.
Hal ini didengar olehh prajurit, dan
melaporkan kepada Adipatih Kandandoho. Mendengar hal ini maka Patih Reksonoto
pun dipanggil dan harus menyerahkan putra nya. Perintah ini dilaksanakan oleh
Patih Reksonoto, walaupun dalam hatinya sangatlah berat. Sehimgga dengan siasat
dari Patih Reksonoto, maka Raden Kamandaka dapat lari dan selamat dari
pengejaran para prajurit.
Raden Kamandaka terjun masuk kedalam
sungai dan menyelam mengikuti arus air sungai. Oleh Patih Reksonoto dan para
prajurit yang mengejar, dilaporkan bahwa Raden Kamandaka dikatakan sudah mati
didalam sugai. Mendengar berita ini Adipatih Kandandoho merasa lega dan puas.
Nmun sebaliknya Dewi Ciptoroso yang setelah mendengar berita itu sangatlah
muram dan sedih.
Sepanjang Raden Kamandaka menyelam
mengikuti arus sungai bertemulah dengan seorang yang memancing di sungai. Orang
tersebut bernama Rekajaya, Raden Kamandaka dan Rekajaya kemudian berteman baik
dan menetap di desa Panagih. Di desa ini Raden Kamandaka diangkat anak oleh
Mbok Kektosuro, seorang janda miskin di desa tersebbut.
Raden Kamandaka menjadi penggemar
adu ayam. Kebetulan Mbok Reksonoto mempunyai ayam jago yang bernama “Mercu”.
Pada setiap penyabungan ayam Raden Kamandaka selalu menang dalam pertandingan,
maka Raden Kamandaka menjadi sangat terkenal sebagai botoh ayam.
Hal ini tersiar sampai kerajaan
Pasir Luhur, mendengar hal ini Adipatih Kandadoho menjadi marah dan murka.
Beliau memerintahkan prajuritnya untuk menagkap hidup atau mati Raden
Kamandaka.
Pada saat itu tiba-tiba datanglah
seorang pemuda tampan mengaku dirinya bernama “Silihwarni” yang akan
mengabdikan diri kepada Pasir Luhur, maka ia permohonannya diterima, tetapi
asalkan ia harus dapat membunuh Raden Kamandaka. Untuk membuktikannya ia harus
membawa darah dan hati Raden Kamandaka.
Sebenarnya Silihwarni adalah nama
samaran. Nama itu sebenarnya adalah Banyak Ngampar Putra dari kerajaan
Pajajaran, yaitu adik kandung dari Raden Kamandaka.
Ia oleh ayahnya Prabu Siliwangi
ditugaskan untuk mencari saudara kandungnya yang pergi sudah lama belum
kembali. Untuk mengatasi gangguan dalam perjalanan, ia dibekali pusaka keris
Kujang Pamungkas sebagai senjatanya. Dan dia juga menyamar dengan nama
Silihwarni, dan berpakaian seperti rakyat biasa.
Karena ia mendengar berita bahwa
kakak kandungnya berada di Kadipaten Pasir Luhur, maka ia pun pergi kesana.
Setelah Silihwarni menerima perintah dari Adipatih, pergilah ia dengan diikuti
beberapa prajurit dan anjing pelacak menuju desa Karang Luas, tempat
penyabungan ayam.
Di tempat inilah mereka bertemu.
Namun keduanya sudah tidak mengenal lagi. Silihwari berpakaian seperti raknyat
biasa sedangkan Raden Kamandaka berpakaian sebagai botoh ayam, dan wajahnya
pucat karena menahan kernduan kepada kekasihnya.
Terjadilah persabungan ayan Raden
Kamandaka dan Silihwarni, dengan tanpa disadari oleh raden kamandaka tiba-tiba
Silihwarni menikam pinggang Raden Kamandaka dengan keris Kujang Pamungkasnya.
Karena luka goresan keris itu tersebut darahpun keluar dengan deras. Namun
karena ketangkasan Raden Kamandaka, ia pun dapat lolos dari bahaya tersebut dan
tempat ia dapat lolos itu dinamakan desa Brobosan, yang berarti ia dapat lolos
dari bahaya.
Karena lukanya semakin deras
mengeluarkan darah, maka ia pun istirahat sebentar disuatu tempat, maka tempat
itu dinamakan Bancran.
Larinya Raden Kamandaka terus dikejar oleh
Silihwarni dan prajurit. Pada suatu tempat Raden Kamandaka dapat menangkap
anjing pelacaknya dan kemudian tempat itu diberinya nama desa Karang Anjing.
Raden Kamandaka terus lari kearah
timur dan sampailah pada jalan buntu dan tempat ini ia memberi nama Desa Buntu.
Pada akhirnya Raden Kamandaka sampailah di sebuah Goa. Didalam Goa ini ia
beristirahat dan bersembunyi dari kejaraan Silihwarni. Silihwarni yang terus
mengejar setelah sampai goa ia kehilangan jejak. Kemudian Silihwarnipun dari
mulut goa tersebut berseru menantang Raden Kamandaka.
Setelah mendengar tantagan
Silihwarni, Raden Kamandaka pun menjawab ia mengatakan identitasnya, bahwa ia
adalah putra dari kerajaan Pajajaran namanya Banyak Cotro.
Setelah itu Silihwarnipun mengatakan
identitasnya bahwa ia juga putra dari Kerajaan Pajajaran, bernama Banyak
Ngampar. Demikian kata-kata yang pengakuan antara Raden Kamandaka dan
Silihwarni bahwa mereka adalah putra pajajaran, maka orang yang mendengar
merupakan nama versi ke-2, untuk Goa Jatijajar tersebut. Kemudian mereka berdua
berpeluka dan saling memaafkan.
Namun karena Silihwarni harus
membawa bukti hati dan darah Raden Kamandaka, maka akhirnya anjing pelacaknya
yang dipotong diambil darah dan hatinya. Dikatakan bahwa itu adalah hati dan
darah Raden Kamandaka yang telah dibunuhnya.
Raden Kamandaka kemudian bertapa di
dalam goa dan mendapat petunjuk, bahwa niatnya untuk mempersunting Dewi
Ciptoroso akan tercapai kalau ia sudah mendapat pakaian “Lutung” dan ia disuruh
supaya mendekat ke Kadipaten Pasir Luhur, yaitu supaya menetap di hutan Batur
Agung, sebelah Barat Daya dari batu Raden.
Suatu kegemaran dari Adipatih Pasir
Luhur adalah berburu. Pada suatu hari Adipatih dan semua keluarganya berburu,
tiba-tiba bertemulah dengan seekor lutung yang sangat besar dan jinak. Yang
akhirnya di tangkaplah lutung tersebut hidup-hidup.
Sewaktu akan dibawa pulang,
tiba-tiba Rekajaya datang mengaku bahwa itu adalah lutung peliharaannya, dan
mengatakan beredia membantu merawatnya jika lutung itu akan dipelihara di
Kadipaten. Dan permohonan itu pun dikabulkan.
Setelah sampai di kadipaten para
putri berebut ingin memelihara lutung tersebut. Selama di Kadipaten lutung
tersebut tidak mau dikasih makan. Oleh sebab itu akhirnya oleh Adipatih lutung
tersebut disayembarakan yaitu jika ada salah seorang dari putrinya dapat
memberi makan dan diterima oleh lutung tersebut maka ia lah yang akan
memelihara lutung tersebut.
Ternyata makanan yang diterima oleh
lutung tersebut hanyalah makanan dari Dewi Ciporoso, maka “Lutung Kasarung” itu
menjadi peliharaan Dewi Ciptoroso. Pada malam hari lutung tersebut berubah
wujud menjadi Raden Kamandaka. Sehingga hanya Dewi Ciptoroso yang tahu tentang
hal tersebut. Pada siang hari ia berubah menjadi lutung lagi. Maka keadaan Dewi
kini menjadi sangat gembira dan bahagia, yang selalu ditemani Lutung Kasarung.
Alkisah pada suatu hari raden dari
Nusa Kambangan Prabu Pule Bahas menyuruh Patihnya untuk meminang Putri Bungsu
Kadipaten Pasir Luhur Dewi Ciptoroso dan mengancam apabila pinangannya ditolak
ia akan menghancurkan Kadipaten Pasir Luhur.
Atas saran dan permintaan dari
Lutung Kasarung pinangan Raja Pule Bahas agar supaya diterima saja. Namun ada
beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh raja Pule Bahas. Salah satunya ialah
dalam pertemuan pengantin nanti Lutung Kasarung harus turut mendampingi Dewi
Ciporoso.
Pada waktu pertemuan pengantin
berlangsung, Raja Pule Bahas selalu diganggu oleh Lutung Kasarung yang selalu
mendampingi Dewi Ciptoroso. Oleh sebab itu Raja Pule Bahas marah dan memukul
Lutung Kasarung. Namun Lutung Kasarung telah siap berkelahi melawan Raja Pule
Bahas.
Pertarungan Raja Pule Bahas dengan
Lutung Kasarung terjadi sangat seru. Namun karena kesaktian dari Luung
Kasarung, akhirnya Raja Pule Bahas gugur dicekik dan digigit oleh Lutung
Kasarung. Tatkala Raja Pule Bahas gugur maka Lutung Kasarung pun langsung
menjelma menjadi Raden Kamandaka, dan langsung mengenkan pakaian kebesaran
Kerajaan Pajajaran dan mengaku namanya Banyak Cotro. Kini Adipatih Pasir Luhur
pun mengetahui hal yang sebenarnya adalah Raden Kamandaka dan Raden Kamandaka
adalah Banyak Cotro dan Banyak Cotro adalah Lutung Kasarung putra mahkota dari
kerajaan Pajajaran. Dan akhirnya ia dikawinkan dengan Dewi Ciptoroso.
Namun karena Raden Kamandaka sudah
cacat pada waktu adu ayam dengan Silihwarni kena keris Kujang Pamungkas maka
Raden Kamandaka tidak dapat menggantikan menjadi raja di Pajajaran.
Karena tradisi kerajaan Pajajaran,
bahwa putra mahkota yang akan menggantikan menjadi raja tidak boleh cacat
karena pusaka Kujang Pamungkas. Sehingga setelah ia dinikahkan dengan Dewi
Ciptoroso, Raden Kamandaka hanya dapat menjadi Adipatih di Pasir Luhur
Menggantikan mertuanya. Sedangkan yang menjadi Raja di Pajajaran adalah Banyak
Blabur. Scml

Tidak ada komentar:
Posting Komentar