Tabir.com.
Perlu diketahui bahwa ada dua nama Ki
Ageng Banyubiru , yang satunya lagi adalah guru spiritual Jaka Tingkir ,yang
berlokasi di dusun Banyubiru berada di Selatan kota Solo Jawa Tengah, yang
disebut-sebut sebagai tempat Jaka Tingkir / Sultan Kerajaan Pajang berguru
menimba ilmu. Setelah Jaka Tingkir berguru kepadanya, Kyai Ageng Banyubiru,
kemudian melakukan perjalanan ke Gunung Majasto, selanjutnya ke Pajang. Jalur
gethek-nya menjadi dasar penamaan dusun-dusun di wilayah itu, yakni: Watu
Kelir, Toh Saji, Pengkol, Kedung Apon dan Kedung Srengenge. Selain
Sendang Banyubiru, ada “Delapan Sendang” lain sebagai Petilasan Kyai Ageng Purwoto Sidik /Kyai Ageng Banyubiru, yakni: Sendang Margomulyo, Sendang Krapyak, Sendang Margojati, Sendang Bendo, Sendang Gupak Warak, Sendang Danumulyo, Sendang Siluwih dan Sendang Sepanjang. Sendang Gupak Warak berada di Wonogiri, dan sendang lainnya tersebar di Weru, Sukoharjo. Semua sendang itu kini airnya telah menyusut. Bahkan Sendang Banyubiru sudah tidak lagi mengeluarkan air, dan dibiarkan menjadi kolam kering penampung air hujan, dan di atasnya dibangun sebuah “masjid”.)
Sendang Banyubiru, ada “Delapan Sendang” lain sebagai Petilasan Kyai Ageng Purwoto Sidik /Kyai Ageng Banyubiru, yakni: Sendang Margomulyo, Sendang Krapyak, Sendang Margojati, Sendang Bendo, Sendang Gupak Warak, Sendang Danumulyo, Sendang Siluwih dan Sendang Sepanjang. Sendang Gupak Warak berada di Wonogiri, dan sendang lainnya tersebar di Weru, Sukoharjo. Semua sendang itu kini airnya telah menyusut. Bahkan Sendang Banyubiru sudah tidak lagi mengeluarkan air, dan dibiarkan menjadi kolam kering penampung air hujan, dan di atasnya dibangun sebuah “masjid”.)
Kembali ke Buyut
Banyubiru yang juga disebut juga Ki Ageng Banyubiru.
Desa Banyubiru yang
satu ini,merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Banyubiru,
Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Desa Banyubiru adalah desa agraris,
baik pertanian basah maupun pertanian kering. Selain itu, Desa Banyubiru juga
memiliki sektor unggulan lainnya, berupa sektor peternakan. Sektor peternakan
yang dikembangkan di desa ini, di antaranya sapi potong, itik, kambing dan
beberapa ternak lainnya.
Berdasarkan data
administrasi pemerintahan Desa Banyubiru tahun 2010, jumlah penduduknya adalah
8.451 orang dengan luas wilayah sekitar 677.087 hektar, yang terdiri atas 9
dusun, yaitu Dusun Krajan, Dusun Kampung Rapet, Dusun Randusari, Dusun
Tegalwuni, Dusun Cerbonan, Dusun Demakan, Dusun Pancuran, dan Dusun Dangkel.
Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani yang didukung oleh
lingkungan alam yang menopang pertanian.
Jarak tempuh Desa
Banyubiru ke ibu kota Kecamatan Banyubiru yaitu sekitar 0,4 kilometer. Sedang
jarak ke ibu kota Kabupaten Semarang adalah sekitar 30 kilometer.
Secara administratif,
Desa Banyubiru dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan
dengan Kelurahan Pojok Sari. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Rapah dan
Desa Brongkol. Di sisi selatan berbatasan dengan Desa Wirogomo, sedangkan di
sisi timur berbatasan dengan Desa Kebondowo.
Dalam Profil Desa
Banyubiru, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, yang disusun oleh Tim
Perumus Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM Des) Tahun 2010 – 2014,
diceriterakan bahwaDesa Banyubiru adalah salah satu desa penyangga Kecamatan
Banyubiru yang keberadaannya sudah ada sejak zaman Kerajaan Islam Demak,
Kerajaan Pajang hingga Mataram. Memang tidak ada bukti tertulis seperti piagam
atau prasasti secara implisit, namun dilihat dari beberapa peninggalan situs
sejarah yang ada menunjukkan bahwa kala itu eksistensi Desa Banyubiru memang ada.
Berdasarkan babad yang
berkembang di sana, Desa Banyubiru pernah mendapat sebutan ”Tanah Perdikan
Banyubiru” dari Kerajaan Demak. Tanah perdikan merupakan sebidang tanah yang
diberi hak istimewa dengan tidak di punguti pajak. Biasanya, tanah perdikan diberikan
kepada orang-orang yang berjasa kepada sang raja yang memerintah, atau juga
biasa diberikan kepada para pendeta-pendeta Hindu pada saat itu. Daerah tanah
perdikan yang diberikan kepada pendeta-pendeta Hindu biasanya dibangun candi
atau lingga. Masyarakat di sekitar candi diberikan keistimewaan untuk tidak
membayar pajak dengan syarat, mereka harus menjaga dan merawat candi tersebut.
Namun, kalau untuk Desa Banyubiru menjadi tanah perdikan, disebabkan karena
pendiri Banyubiru yaitu Ki Ageng Gajah Sora Dipoyono adalah seorang panglima
perang di bawah Adipati Pati Unus atau Pangeran Sabrang Lor pada waktu perang
Malaka mengusir penjajah Portugis, sehingga mendapatkan penghargaan memimpin
suatu daerah, yaitu Tanah Banyubiru dengan status tanah perdikan karena
pengabdian yang luar biasa pada Kerajaan Demak pada saat itu. Tanah perdikan
ini biasanya dikenal dengan istilah sima di kala Kerajaan Hindu masih eksis.
Sejarah Ki Buyut Banyubiru / Ki Ageng Banyu Biru (Kyai Ageng
Gajah Sora)
Ki Ageng Banyu Biru
adalah pemimpin sebuah padepokan yaitu padepokan Banyu Biru. Banyak para siswa
yang berguru kepada beliau.
Ki Ageng Banyu Biru memiliki dua orang adik laki-laki. Ki Mas Wila dan Ki Mas Wuragil. Disana juga sudah menetap dan berguru seorang pemuda keturunan Prabhu Brawijaya V, Ki Mas Manca.
Ki Ageng Banyu Biru memiliki dua orang adik laki-laki. Ki Mas Wila dan Ki Mas Wuragil. Disana juga sudah menetap dan berguru seorang pemuda keturunan Prabhu Brawijaya V, Ki Mas Manca.
Ki Mas Manca adalah
keturunan Arya Jambuleka II. Sedangkan Arya Jambuleka II adalah putra Arya
Jambuleka I. Dan Arya Jambuleka I adalah putra selir Prabhu Brawijaya V.
Ki Ageng Banyu Biru
yang waskita batinnya, pagi itu memerintahkan para siswa membersihkan
Padepokan. Tak ada yang mengetahui apa maksud beliau. Hanya Ki Mas Manca yang
diberitahu bahwasanya sore hari nanti, akan datang seorang tamu keturunan
Prabhu Brawijaya V yang hendak berguru ke padepokan tersebut.
Dan benar, menjelang
selesai sandhya sore atau sembahyang sore, seorang pemuda nampak memasuki
Padepokan serta meminta ijin kepada seorang cantrik (siswa) untuk bertemu
dengan Ki Ageng Banyu Biru.
Cantrik tersebut
segera menghadap Ki Ageng. Dan Ki Ageng serta merta memerintahkan Ki Mas Manca
untuk menyambut kedatangan pemuda tersebut yang tak lain adalah Jaka Tingkir!
Jaka Tingkir terkejut
juga mendapati kedatangannya disambut sedemikian rupa oleh Ki Ageng. Rupanya
beliau sudah tahu pasti bahwa pada sore hari itu, dia akan datang kesana.
Didepan Ki Ageng Banyu Biru, Jaka Tingkir menceritakan apa sebabnya hingga
dirinya sampai ke Padepokan Banyu Biru. Berhari-hari Jaka Tingkir berusaha
mencari letak padepokan tersebut, dan pada akhirnya berkat Hyang Widdhi, dia
sampai juga dan bisa bertemu langsung dengan Ki Ageng Banyu Biru.
Ki Ageng Banyu Biru
memperkenalkan Ki Mas Manca kepada Jaka Tingkir. Kedua pemuda keturunan
Majapahit itu saling berpelukan bahagia. Bahkan, Ki Mas Manca sedemikian
bahagianya sampai-sampai menitikkan air mata.
Ki Ageng Banyu Biru
memerintahkan Jaka Tingkir berdiam di Padepokan untuk sementara waktu. Dengan
ditemani Ki Mas Manca, Jaka Tingkir mempelajari berbagai macam ilmu dari Ki
Ageng Banyu Biru. Kini, Jaka Tingkir lebih mendalami Ilmu Kesempurnaan yang
berasal dari butir-butir Upanishad Weda. Jaka Tingkir benar-benar mendalami
Ilmu tinggi tersebut.
Berbulan-bulan Jaka
Tingkir digembleng dengan Tapa, Brata, Yoga dan Samadhi. Kecerdasaan dan
kesungguhan Jaka Tingkir membuat Ki Ageng sangat menyayanginya. Berbagai
lontar-lontar rahasia dengan mudah dikuasai Jaka Tingkir. Hanya dalam beberapa
bulan, kemajuan spiritual Jaka Tingkir sudah sedemikian pesatnya. Jaka Tingkir
yang dulu lebih mumpuni dalam Olah Kanuragan, kini, Kesadaran spiritual-nya benar-benar
terasah tajam berkat Ki Ageng Banyu Biru.
Ki Ageng Banyu Biru
bangga melihat perkembangan Jaka Tingkir.
Dan manakala sudah
dirasa cukup, Ki Ageng Banyu Biru-pun memerintahkan Jaka Tingkir untuk turun
dari Padepokan. Konon, dari Ki Ageng Banyu Biru, Jaka Tingkir mendapatkan Aji
Lembu Sekilan, yaitu sebuah ilmu kesaktian yang langka, yang berguna untuk
melindungi tubuh dari berbagai serangan dalam batas satu jengkal jari ( satu
jengkal jari dalam bahasa Jawa adalah sekilan ). Konon pula, ilmu ini menyerap
energi Lembu Andini, seorang Atma Suci yang berwujud seekor Lembu dan menjadi
tunggangan Shiwa Mahadewa.
Ki Ageng Banyu
Biru-pun memerintahkan Ki Mas Manca, Ki Mas Wila dan Ki Mas Wuragil untuk
menemani Jaka Tingkir. Sebelum meninggalkan padepokan, Ki Ageng memberikan
sebuah taktik jitu kepada Jaka Tingkir agar dapat kembali diterima oleh Sultan
Trenggana.
Pada setiap musim
penghujan, Sultan Trenggana pasti meninggalkan ibu kota Demak dan berdiam diri
di Pegunungan Prawata. Banjir seringkali melanda ibu kota Demak. Dan tidak
banyak yang tahu bahwasanya Sultan kerapkali berdiam diri di Pegunungan Prawata
tiap kali musim banjir tiba. Hanya para Pasukan Pengawal Sultan saja yang
mengetahuinya.
Untuk kembali
mendapatkan kepercayaan Sultan Trenggana, Ki Ageng Banyu Biru menyarankan
kepada Jaka Tingkir membuat sebuah keonaran dengan meminta bantuan beberapa
gerilyawan Majapahit. Keonaran tersebut harus mampu mengancam keselamatan
Sultan Trenggana yang tengah bermukin di Pegunungan Prawata. Dapat dipastikan, tidak
bakalan banyak prajurid angkatan bersenjata Demak yang berada disana.
Sebelum pasukan
bantuan Demak datang dari Demak menuju Pegunungan Prawata, Jaka Tingkirharus
secepatnya tampil menjadi sosok penyelamat. Dengan demikian, Sultan pasti akan
kembali menaruh kepercayaan kepada Jaka Tingkir.
Pada hari yang
ditentukan, Jaka Tingkir, Ki Mas Manca, Ki Mas Wila dan Ki Mas Wuragil-pun
berangkat. Tujuan mereka adalah Pegunungan Prawata.
Arya Bahureksa.
Untuk mempersingkat
perjalanan dari Banyu Biru ke Pegunungan Prawata, keempat pemuda ini memilih
menghindari jalur darat. Mereka memilih menggunakan jalur suingai.
Rakit-pun dibuat.
Setelah rampung membuat rakit yg kokoh, keempatnya segera menaiki rakit.
Disuatu tempat, karena
waktu telah menjelang sore hari, keempatnya memutuskan untuk menepi dan mencari
tempat bermalam dipinggir sungai. Kebetulan, tak jauh dari tepi sungai, waktu
itu banyak para gadis tengah mencuci pakaian. Melihat kehadiran keempat orang
asing yang tak dikenal, para gadis seketika menyingkir ketakutan.
Dasar Jaka Tingkir dan
Ki Mas Manca yang memang masih belia, salah seorang gadis tercantik diantara
sekawanan gadis lain, sempat digoda oleh keduanya. Gadis tersebut marah dan
pulang dengan hati mendongkol.
Tak ada yang menyangka
jika menjelang malam menanjak, tempat dimana keempat pemuda ini bermalam
seadanya tiba-tiba dikepung oleh orang-orang tak dikenal dengan senjata
lengkap! Perselisihan terjadi. Apa daya empat orang melawan sebegitu banyak
manusia, pada akhirnya keempatnya menuruti keinginan segerombolan orang-orang
tak dikenal tersebut.
Akhirnya, Jaka Tingkir
dan ketiga temannya tahu duduk permasalahan sebenarnya setelah mereka dibawa ke
tempat hunian ditengah hutan, sarang para gerombolan.
Tempat dimana mereka
bermalam ternyata adalah wilayah hunian para gerombolan gerilyawan Majapahit.
Dan salah seorang gadis cantik yang sore tadi mereka goda adalah anak perempuan
sang pemimpin gerombolan.
Untung, begitu Jaka
Tingkir memperkenalkan siapa dirinya, para gerombolan gerilyawan langsung berbalik
menghormatinya. Tiga hari tiga malam keempat pemuda dari Banyu Bitu ini dijamu
disana.Arya Bahureksa, sang pemimpin, sangat-sangat bersuka cita bisa bertemu
dengan putra Ki Ageng Pengging.
(Dalam Babad Tanah
Jawa dikisahkan, manakala rakit yang dinaiki Jaka Tingkir hendak menepi, mereka
melihat seorang gadis cantik dipinggiran sungai. Jaka Tingkir dan Ki Mas Manca
menggodanya. Gadis marah dan serta merta menghilang. Disusul rakit berputar
sendiri dan hujan seketika turun rintik-rintik. Lebih mengagetkan lagi,
mendadak banyak buaya bermunculan ditempat itu! Keempat orang pemuda terpaksa
bertempur dengan gerombolan buaya dan akhirnya berhasil menaklukkan mereka.
Arya Bahureksa, pemimpin para buaya menjamu mereka di Istana Buaya selama tiga
hari tiga malam)
Dari Arya Bahureksa,
Jaka Tingkir mendapatkan bantuan pasukan gerilyawan. Arya Bahureksa juga
menyarankan kepada Jaka Tingkir untuk menemui Kebo Andanu, seorang pemimpin
gerilyawan yang bermukim disekitar Pegunungan Prawata.
Jaka Tingkir
sangat-sangat berterima kasih atas semua bantuan Arya Bahureksa.
Setelah tiga hari tiga
malam tinggal dipusat pemukiman para gerilyawan, Jaka Tingkir, Ki Mas Manca, Ki
Mas Wila dan Ki Mas Wuragil-pun melanjutkan perjalanannya ke Pegunungan
Prawata.
Kini perjalanan mereka
diiringi oleh sebagian gerombolan gerilyawan yang hendak membantu. Dalam Babad
Tanah Jawa, iring-iringan rakit rombongan Jaka Tingkir ini digambarkan dalam
tembang Megatruh sebagai berikut :
Sigra milir, Sang
Gethek sinangga bajul,
Kawan dasa kang njageni,
Ing ngarsa miwah ing pungkur,
Tanampi ing kanan kering,
Sang Gethek lampahnya alon.
Kawan dasa kang njageni,
Ing ngarsa miwah ing pungkur,
Tanampi ing kanan kering,
Sang Gethek lampahnya alon.
(Segeralah berjalan,
Sang Rakit dengan disangga para buaya,
Empat puluh buaya pilihan yang menjaga,
Berada didepan dan dibelakang,
Begitu juga berada di kanan dan kiri,
Sang Rakit-pun berjalan pelan.)
Empat puluh buaya pilihan yang menjaga,
Berada didepan dan dibelakang,
Begitu juga berada di kanan dan kiri,
Sang Rakit-pun berjalan pelan.)
(Megatruh adalah
tembang yang menyiratkan situasi genting. Megat berarti : Pegat, Ruh berarti
Nyawa/Atma. Megatruh berarti situasi yang mampu memisahkan Ruh dan Jasad.
Perjalanan Jaka Tingkir ke Pegunungan Prawata dituangkan dalam tembang Megatruh
menyiratkan bahwa perjalanan ini adalah perjalanan menujui situasi genting yang
bisa memisahkan Ruh dan Jasad)
Empat puluh prajurid
pilihan, ditambah para prajurid yang lain, mengiringi Jaka Tingkir.
Perjalanan mereka-pun
akhirnya terhenti manakala senja telah menjelang. Jaka Tingkir beserta para
lasykar gerilyawan Majapahit ini akhirnya menepi untuk mencari tempat bermalam.
Wahyu Keprabhon
berpindah.
Tepat waktu itu,
mereka berhenti di wilayah pedukuhan Butuh, dimana Ki Ageng Butuh adalah
pemimpin padukuhan dengan pangkat Bekel.
(Ingatkah anda dengan
Ki Ageng Butuh? Ki Ageng Butuh adalah sahabat karib Ki Ageng Pengging. Beliau
bersama Ki Ageng Ngerang dan Ki Ageng Tingkir sempat berguru kepada Syeh Lemah
Abang. Baca catatan saya KI AGENG PENGGING).
Malam itu Ki Ageng
Butuh tidak dapat tidur. Beliau duduk di Pendhopo rumah. Tepat menjelang tengah
malam, diatas langit nampak seberkas cahaya kebiru-biruan meluncur dari arah
utara. Cahaya itu melintasi langit Butuh!
Ki Ageng Butuh
terkesiap. Cahaya ini adalah Wahyu Keprabhon. Yaitu Wahyu seorang Raja. Berasal
dari utara, tak lain dari Demak Bintara. Dan wahyu ini tengah berpindah tempat!
Dimana wahyu ini jatuh, maka disanalah orang pilihan tersebut dapat dipastikan
akan tampil menjadi seorang Raja!
Sontak Ki Ageng Butuh
menghambur menuju Gedhogan ( Kandang Kuda ) dan menyambar seekor kuda. Ditengah
malam buta, Ki Ageng Butuh memacu kudanya mengikuti gerak cahaya kebiru-biruan
yang nampak melintas di atas langit menuju ke pinggir pedukuhan, jauh ke
pinggir sungai!
Ki Ageng Butuh terus
mengikuti pergerakan cahaya tersebut.
Dan tepat dipinggiran
sungai, cahaya itu meluncur ke bawah dan raib! Ki Ageng terus memacu kudanya.
Dan kudanya terhenti
nyalang manakala beberapa orang bersenjata tengah menghadangnya tiba-tiba!
Ki Ageng memincingkan
matanya melihat ada sekitar lima orang bersenjata terhunus tengah menghalangi
laju kudanya. Sejenak Ki Ageng ditanya siapakah beliau. Ki Ageng-pun
memperkenalkan dirinya sebagai penguasa wilayah tersebut. Dan giliran Ki Ageng
yang balik bertanya siapakah mereka.
Para penghadang Ki
Ageng Butuh tak lain adalah para gerilyawan yang mengiringi Jaka Tingkir.
Mereka tengah mendapat giliran jaga malam. Mendengar nama Jaka Tingkir
disebut-sebut, Ki Ageng Butuh terkejut. Cepat dia meminta kepada kelima orang
tersebut untuk menunjukkan dimana Jaka Tingkir kini tengah berada. Kelima orang
itu nampak enggan dan curiga. Namun manakala mendengar penuturan Ki Ageng bahwa
beliau melihat wahyu keprabhon jatuh ditempat itu, sontak mereka segera
mengantarkan Ki Ageng Butuh ketempat dimana Jaka Tingkir tengah beristirahat.
Disaksikan kelima
orang gerilyawan berikut Ki Ageng Butuh, disana sebuah kejadian yang memukau
mata tengah terjadi!
Diatas kepala seorang
pemuda yang tengah tertidur, nampak seberkas cahaya tengah mengambang, berwarna
biru cerah. Keenam orang yang menyaksikan hal itu tercengang. Wajah sang pemuda
nampak jelas terlihat tersinari cahaya tersebut.
Ki Ageng Butuh tidak
sangsi lagi dengan Mas Karebet, putra sahabatnya, Ki Ageng Pengging! Pemuda
yang kini tengah tertidur dengan cahaya mengambang diatas kepalanya itu adalah
Mas Karebet, karena wajahnya mirip dengan Ki Ageng Pengging!
Dan Jaka Tingkir
mendadak terjaga dari tidurnya! Bersamaan dengan itu, cahaya kebiru-biruan yang
terang diatas kepalanya lenyap!
Jaka Tingkir terjaga
karena dalam tidurnya dia mendengar suara-suara aneh tengah memanggil-manggil
namanya berulang-ulang!
Begitu dia sadar, dia
nampak kebingungan manakala tak jauh dari tempatnya tidur, ada enam orang tengah
memperhatikannya dengan tatapan takjub!
Belum reda keheranan
Jaka Tingkir, salah seorang dari enam orang yg tengah tercengang melihatnya
menghambur dan memeluknya. Keheranan Jaka Tingkir semakin bertambah-tambah.
Namun begitu sosok itu memperkenalkan didinya sebagai Ki Ageng Butuh, sahabat
karib ayahandanya Ki Ageng Pengging, Jaka Tingkir sedikit banyak memahami
situasi yg serba mengherankan tersebut.
Ki Ageng Butuh
menjelaskan bahwasanya Jaka Tingkir kini telah terpilih sebagai Raja Tanah
Jawa. Sesaat lalu, kala Jaka Tingkir tertidur, cahaya wahyu keprabhon telah
jatuh diatas kepalanya. Jaka Tingkir kembali dicekam rasa heran. Antara percaya
tidak percaya. Namun melihat keseriusan Ki Ageng Butuh, keraguan Jaka Tingkir
luruh juga.
Malam itu, Ki Ageng Butuh
banyak memberikan wejangan-wejangan yang sangat berguna bagi Jaka Tingkir. Satu
hal yg beliau tekankan, agar Jaka Tingkir mentauladani ayahandanya Ki Ageng
Pengging yang terkenal sabar dan legowo. Jika kelak Jaka Tingkir benar-benar
berhasil menduduki tahta dan menjadi penguasa Tanah Jawa, sikap ini harus
dikedepankan.
Menjelang pagi, Ki
Ageng Butuh-pun melepas kepergian Jaka Tingkir dan rombongan dengan doa-doa
keselamatan.
Rombongan Jaka
Tingkir, kini melanjutkan perjalanan melalui jalur darat.
Pegunungan Prawata
Dan perjalanan
rombongan Jaka Tingkir-pun sampai juga di pegunungan Prawata. Walau agak lambat
dikarenakan mereka memilih jalur-jalur sepi dengan menerobos hutan belukar demi
meghindari kecurigaan orang banyak, pada akhirnya mereka tiba juga.
Dengan bantuan
gerilyawan anak buah Arya Bahu Reksa, Jaka Tingkir bisa bertemu dengan Kebo
Andanu, pemimpin gerilyawan yang bermukim disekitar Pegunungan Prawata.
Jumlah personil anak
buah Kebo Andanu ternyata cukup banyak juga. Dengan bantuan mereka yang sudah
cukup hafal medan Pegunungan Prawata, apa yang akan direncanakan Jaka Tingkir
akan bisa dijalankan dengan mudah.
Jaka Tingkir dan Kebo
Andanu segera merndingkan rencana secara matang.
Setelah bkesepakatan
dicapai, Jaka Tingkir menjanjikan, kelak apabila dia berhasil menduduki tahta
Demak dan berhasil mendirikan Kerajaan baru, Kebo Andanu akan diberikan wilayah
otonomi khusus didaerah Pegunungan Prawata dan sekitarnya. Kebo Andanu
dijanjikan akan diangkat sebagai penguasa setingkat Adipati atau Raja Bawahan.
Untuk sementara waktu,
Jaka Tingkir berserta rombongan beristirahat beberapa hari dipusat hunian para
gerilyawan pimpinan Kebo Andanu. Jaka Tingkir menanti hari yang tepat untuk
menjalankan rencananya.
Dan pada hari yang
ditentukan, gerilyawan gabungan ini bergerak menduduki tempat-tempat yang sudah
direncanakan. Tempat-tempat yang mendekati posisi Pesanggrahan dimana Sultan
Trenggana berada.
Dengan ditemani Ki Mas
Manca, Jaka Tingkir menyamar sebagai seorang tukang rumput. Mereka berdua lebih
mendekat ke pusat Pesanggrahan. Jaka Tingkir ingin lebih memastikan dengan mata
kepala sendiri bahwa Sultan Trenggana memang benar-benar berdiam disana. Selain
itu, Jaka Tingkir juga tengah mencari target beberapa orang Prajurid Pengawal
Sultan yang sama-sama saling kenal dengan dirinya.
Dari hasil pengamatan
Jaka Tingkir, dia bisa memastikan bahwa Sultan Trenggana memang berdiam disana.
Jaka Tingkir yakin setelah mengamati seharian kondisi dan situasi Pesanggrahan.
Sebagai mantan Lurah Prajurid Pengawal Sultan, Jaka Tingkir tahu bahwa memang
Raja Demak itu sedang berada di Pesanggrahan Pegunungan Prawata.
Pada malam harinya,
kembali Jaka Tingkir, ditemani Ki Mas Manca dan beberapa gerilyawan pilihan
mendekati lokasi Pesanggrahan. Jaka Tingkir tengah mengincar beberapa orang
prajurid jaga. Yaitu Prajurid Pengawal Sultan yang dikenalinya.
Setelah mendapatkan
sasaran yang tepat, ditambah situasi yang dirasa cukup memadai, Ki Mas Manca
dan Jaka Tingkir menyergap dua orang prajurid yang sudah diincar semenjak sore.
Dibantu beberapa gerilyawan yang lain, dua orang prajurid ini berhasil
dilumpuhkan dan dibawa menjauhi areal Pesanggrahan menuju ke tempat
persembunyian para gerilyawan.
Sesampainya ditempat
persembunyian para gerilyawan, kedua prajurid pengawal tersebut langsung
ditemui sendiri oleh Jaka Tingkir. Betapa terkejut mereka mengetahui siapa yang
tengah menemui mereka berdua. Keduanya tidak bakalan lupa dengan Jaka Tingkir,
mantan Lurah Prajurid Pengawal mereka.
Oleh Jaka Tingkir,
kedua prajurid ini ditawari jabatan tinggi jika mereka mau membantu gerakan
yang direncanakan Jaka Tingkir. Dan keduanya tergiur. Mereka akhirnya menerima
tawaran tersebut. Tugas mereka hanyalah mengabarkan kepada Sultan Trengana
bahwa mereka melihat sosok Jaka Tingkir tegah bertapa disekitar Pegunungan
Prawata.
Kabar tersebut harus
disampaikan kepada Sultan Demak keesokan hari manakala Pesanggrahan sudah
diserang oleh pere gerilyawan. Ditengah situasi genting dan sangat mengancam
keselamatyan Sultan, disaat itulah kedua prajurid ini harus menghadap Sultan
dan menyampaikan berita tersebut.
Selanjutnya mereka
harus bisa memberi masukan agar Sultan meminta bantuan Jaka Tingkir untuk
mengusir gerombolan liar yang mengancam beliau.
Jika Sultan setuju,
secepatnya mereka harus kembali menemui Jaka Tingkir. Jika Sultan tidak setuju,
mereka tidak usah kembali lagi.
Menjelang pagti hari,
seluruh gerilyawan telah siap pada pos masing-masing. Dan bersamaan dengan
bunyi burung hutan buatan yang disuarakan oleh Ki Mas Manca, serentak mereka
keluar dari persembunyian dan menyerang Pesanggrahan dimana Sultan Trenggana
berada!
Pagi baru menjelangt.
Embun masih juga belum mengering. Matahari masih menyembul malu-malu. Seluruh
Prajurid Pengawal Sultan Demak dikejutkan dengan serangan mendadak dari
gerombolan gerilyawan Majapahit!
Bende (Gong kecil)
seketka nyalang dipukul! Dari satu tempat, menyusul suara bende terdengar
ditempat lain! Berkumadnatg memekakkan telinga! Bunyi pukulan bertylu-talu
tersebut berbaur dengan suara teriakan-teriakan beringas dari para gerilyawan
dan suara kepanikan para prajurid Demak!
Dipagi buta itu,
dimana mata mereka juga belum sepenuhnya jernih, para Prajurid Pengawal Sultan
segera menyambar senjata dan tameng masing-masing! Riuh rendak suaranya!
Bentakan-bentakan komando terdengar disana-sini!!
Dan pertempuran pecah
sudah! Senjata-senjata berkilat-kilat ditimpa cahaya mentari yang baru saja
mengintip mayapada! Disana-sini, suara denting senjata terdengar memekakkan
telinga dibarengi teriakan-teriakan marah dari mereka yang tengah mengadu
nyawa!!
Belum reda kekacauan
yang tengah terjadi, para prajurid Demak dikejutkan pekikan keras dari sisi
lain. Pekikan yang berbunyi : JAYA MAJAPAHIT!! berulang-ulang dan disusul suara
gemuruh sahutan : JAYA!!. Disana, dari sisi lain, sepasukan gerilyawan datang
menyerang dan meleburkan diri dalam pertempuran yang sudah terjadi!!!
Kepanikan melanda para
Prajurid Pengawal Sultan! Mereka tidak menyangka-nyangka, hari ini para
gerilyawan berani menyerang Pesanggrahan Pegunungan Prawata!! Kepanikan semakin
bertambah-tambah manakala disela-sela pertempuran terdengar teriakan
berulang-ulang :PATENI WONG DEMAK!!! (BUNUH ORANG DEMAK!!). Teriakan ini
bersahut-sahutan. Para prajurid Demak sedikit menciut nyalinya.
Dan satu demi satu,
mayat-pun bergelimpangan bermandikan darah!!!
Kebo Andanu terlihat
memacu kuda ditengah-tengah pertempuran sembari terus berteriak-teriak : JAYA
MAJAPAHIT!!Dia membawa bendera bergambar Surya Majapahit, simbol kebesaran
Majapahit ditangan kirinya ,sedangkan tangan kanannya terus mengayunkan senjata
dengan lincahnya!! Satu dua prajurid Demak terpapas ayunan senjatanya! Jerit
kesakitan terdengar diiringi tumbangnya tubuh itu dengan bermandikan darah
segar!
Para Prajurid Pengawal
Sultan terdesak! Tubuh-tubuh prajurid Demak tumbang satu persatu. Gerilyawan
liar ini sangat terlihat sangat ganas! Gerakan peyerangan mereka yang tidak
kenal takut terlihat sarat dengan penumpahan dendam dan kebencian!!
Dan beberapa pasukan
gerilyawan telah naik memasuki Pesangrahan dimana Sultan Trenggana tengah
berada! Jerit ketakutan dari para dayang wanita dan beberapa selir yang
kebetulan ikut ditempat tersebut terdengar! Mereka ketakutan melihat gerombolan
gerilyawan Majapahit memasuki Pesanggrahan tanpa ada satupun pasukan Demak yang
bisa menahannya! Kegaduhan, kepanikan, ketakutan terlihat disana-sini!
Pergerakan pasukan
gerilyawa sudah tidak dapat dikontrol lagi. Penyeragan mereka semakin liar dan
ganas!!!
Melihat situasi
seperti itu, Jaka Tingkir segera memerintahkan dua orang prajurid Demak yang
semalam diculiknya untuk segera menjalankan tugas! Kedua prajurid ini langsung
bergerak menyusup, mencari jalan aman menuju Pesanggrahan. Sebuah tanda khusus
yang mereka kenakan dileher membuat para gerilyawan yang kebetulan melihat
mereka segera memberikan jalan!!
Dua orang prajurid ini
sampai di Pesanggrahan! Situasi sangat kacau balau!! Mereka telah hapal jalan
menuju ruang dalam Pesanggrahan. Dan mereka bergerak ke ruang rahasia dimana
mereka pastikan Sultan pasti tengah mengamankan dirinya disana!!
Kedatangan mereka yang
tergopoh-gopoh membuat beberapa prajurid pengawal yang masih menjaga Sultan
terkejut!! Ditengah kepanikan dan ketakutan, ditengah kebingungan mereka
mencari celah membawa lari Sultan keluar dari medan tempur, kedatangan dua
orang prajurid ini hampir saja menimbulkan pertikaian!!
Namun melihat yang
datang adalah sesama anggota prajurid pengawal, mereka-pun segera menanyakan
ada berita penting apakah yang hendak disampaikan? Dua orang prajurid ini
meminta ijin untuk bertemu Sultan Trenggana langsung!
Dalam suasana
mencekam, para prajurid yabg menjaga Sultan mengantarkan dua orang suruhan
menemui Sultan Trenggana! Didalam bilik, nampak Sultan tengah berdiri tegang
sembari menggenggam keris. Melihat kedatangan dua orang prajurid tersebut, Sultan
langsung menyambut dan menanyakan apa yang hendak mereka sampaikan.
Tanpa menungu waktu
lama, dua orang prajurid ini langsung mengabarkan bahwa mereka melihat Jaka
Tingkir. Jaka Tingkir tengah berada disekitar Pegunungan Prawata. Dia tengah
menjalankan Tapa Brata. Jika Sultan berkenan, Jaka Tingkir mau turun tangan
saat ini juga!!
Dalam kondisi panik,
Sultan Treggana tidak bisa berfikir panjang lagi. Beliau langsung memerintahkan
dua prajurid ini untuk menemui Jaka Tingkir. Sultan Trenggana memerintahkan
Jaka Tingkir mengatasi kekacauan dan Sultan akan mengampuni segala
kesalahannya!
Kedua prajurid ini
bergegas mohon undur. Keduanya segera keluar dari Pesangrahan, kembali menemui
Jaka Tingkir!
Mendengar Sultan
Trenggana tengah panik dan meminta bantuannya, Jaka Tingkir, Ki Mas Manca, Ki
Mas Wila dan Ki Mas Wuragil segera bergerak!
Ki Mas Manca segera
memperdengarkan suara burung hutan tiruan bersahut-sahutan! Disusul kemudian
suara serupa terdengar! Suara yang dibuat oleh para gerilyawan yang lain begitu
mendengar suara burung hutan tiruan yang diperdengarkan oleh Ki Mas Manca!
Jika suara ini
terdengar, maka menandakan bahwasanya Jaka Tingkir sudah waktunya tampil ke
medan laga
Namun seharusnya,
begitu mendengar isyarat suara yang dibunykan beberapa gerilyawan dari garis
belakang, Kebo Andanu harus memberikan isyarat penghentian setengah penyerangan
dengan menurunkn bendera Surya Majapahit! Hanya pemimpin gerilyawan anak buah
Arya Bahureksa saja yang melakukannya. Gerakn penyerangan setengah terhenti dari
sisi lain. Beberaga gerilyawan dibaris depan berbalik arah mundur pelahan
bergelombang!
Namun tidak dengan
pasukan yang dipimpi Kebo Andanu! Mereka terus merangsak maju. Mereka tidak
melihat bendera Surya Majapahit ditangan Kebo Andanu diturunkan!
Situasi yang tak
terduga ini membuat beberapa gerilyawan kebingungan. Dan Jaka Tingkir-pun
melihat itu! Kebo Andanu tidak menuruti perintahnya! Kebo Andanu tidak
menjalankan rencana yang telah disepakati! Dan gerakan pasukan Kebo Andanu
telah merambah Pesanggrahan. Beberapa bangunan Pesanggrahan telah dibakar!
Jaka Tingkir cepat
bertindak! Dia mengambil sekor kuda dan cepat naik keatas pelana. Kuda langsung
digebrak nyalang, langsung melaju ke garis depan! Ki Mas Manca, Ki Wila dan Ki
Wuragil tidak tinggal diam! Mereka segera meggebrak kuda masing-masing menyusul
Jaka Tingkir!
Melihat kedatangan
empat penunggang kuda yang menerobos medan pertempuran, dan yang paling depan
terlihat adalah Jaka Tingkir, Kebo Andanu tidak menggubris! Bendera Surya
Majapahit kini semakin dia angkat tinggi-tinggi!
Jaka Tingkir bertindak
cepat, dia memacu kuda mendekati Kebo Andanu. Manakala jarak mereka sudah
teramat dekat, Jaka Tingkir langsung melompat dari atas kudanya, menubruk tubuh
Kebo Andanu! Karuan saja, Kebo Andany jatuh terguling ditimpa tubuh Jaka
Tingkir. Bendera Surya Majapahit terlempar dari genggamannya!
Cepat bendera itu
diraih Jaka Tingkir dan dilemparkan kearah Ki Mas Manca yang tengah memacu kuda
kearahnya! Ki Mas Manca sigap menerima lemparan tersebut! Dengan terus memacu
kuda ke garis paling depan, diiringi Ki Mas Wila dan Ki Mas Wuragil, Ki Mas
Manca mengangkat tinggi-tinggi bendera Surya Majapahit, lantas digerakkannya
turun sambil berteriak :
“Munduuuuuuuuur!!!!”
Mendengar teriakan
komando dari Ki Mas Manca dan melihat bendera Surya Majapahit ditangannya
bergerak turun, beberapa pemimpin gerilyawan yang membawa bendera serupa segera
melakukan hal yang sama dan berteriak :
“Munduuuuuuur!!
Munduuuuuuuuur!!”
Gerakan merangsak maju
dari anak buah Kebo Andanu segera tertahan. Kini pelahan mereka mundur ke
belakang bergelombang!
Beberapa prajurid
Demak yang hampir kehilangan nyawa bersyukur manakala para gerilyawan itu
seketika mundur kebelakang!
Di lain tempat, Kebo
Andanu tengah berhadapan dengan Jaka Tingkir!
“Paman, mengapa tidak
mengikuti rencana semula?!”
Suara Jaka Tingkir
tertahan. Jarak mereka teramat dekat, cukup untuk didengar oleh Kebo Andanu.
Kebo Andanu mendengus! Matanya berkilat-kilat!
“Kehormatan bagiku
membunuh keturunan Patah itu dengan tanganku, Raden!”
Suara Kebo Andanu
terdengar bergetar menahan amarah!
Jaka Tingkir mendesis
:
“Pasukan Demak dalam
jumlah besar sebentar lagi datang! Percuma hanya membunuh Sultan-nya! Sultan
baru akan segera diangkat menggantikan! Ikuti rencana semula, paman! Tahta Demak
bisa kita rebut dari dalam!!”
Namun Kebo Andanu
tidak mau mendengar. Kini dia malah menaiki kudanya, menghunus keris dan
berkata :
“Bunuhlah aku, Raden!
Hanya dengan cara itu Raden bisa menghentikan aku memenggal kepala Trenggana!!”
Kuda digebrak! Sesaat
meringkik! Lantas berlari ke arah Pesanggrahan! Jaka Tingkir tidak tinggal
diam! Dia berlari menghampiri kudanya dan segera meyusul Kebo Andanu!
Aksi kejar-kejaran
terlihat jelas karena pertempuran pelahan mulai mereda. Seluruh yang hadir
menyaksikan itu semua. Para gerilyawan menduga-duga apa yang tengah terjadi!
Dan pada akhirnya mereka masing-masing bisa menyimpulkan bahwa Kebo Andanu
tengah melanggar rencana semula!
Di pihak pasukan
Demak, beberapa prajurid senior bisa melihat dengan jelas dan mengenali bahwa
sosok penunggang kuda yang tengah mengejar pemimpin gerilyawan itu tak lain
adalah Jaka Tingkir, mantan Lurah Prajurid Pengawal Sultan! Berbagai dugaan
merebak dibenak mereka! Namun, aksi kejar-kejaran yang tengah berlangsung lebih
menyita perhatian mereka!!
Dan kembali Jaka
Tingkir lebih tangkas memapas laju kuda Kebo Andanu!! Kuda Jaka Tingkir
mendahului laju kuda Kebo Andanu dan dengan berani bergerak melintang
didepannya! Karuan Kuda Kebo Andanu terkejut dan sigap berlari memutar!!!
Kedua kuda berlari
berputar arah, lantas bertemu berhadap-hadapan! Koua melonjak-lonjak sesaat!
Mendengus-dengus!! Jaka Tingkir dan Kebo Andanu kini kembali berhadapan!!
“Hentikan, paman!!”
Kebo Andanu tersenyum
anyir!! Dia menggeleng!!
“Membunuh Trenggana
atau mati ditangan pewaris tahta Majapahit adalah kehormatan bagiku!”
Nyaring suara Kebo
Andanu! Hampir semua orang mendengar suaranya! Kini, baik pasukan Demak maupun
para gerilyawan mendadak terkesiap diam!! Hanya ringkikan-ringkikan kuda
sesekali terdengar disana-sini! Mereka yang hadir menantikan dengan tegang apa
yang bakal terjadi!
Dan, kembali Kebo
Andanu memutar kudanya! Jaka Tingkir sigap! Dia menubruk tubuh Kebo Andanu
sekali lagi! Keduanya terguling-guling ditanah! Dan keduanyapun cepat bangkit
berdiri!! Kebo Andanu beringas! Ia tusukkan keris ke tubuh Jaka Tingkir!!
Jaka Tingkir
menghindar! Jaka Tingkir tetap bersikeras mengingatkkan Kebo Andanu! Namun
serangan Kebo Andanu semakin ganas!! Pertempuran terjadi! Disaksikan oleh para
prajurid Demak dan para gerilyawan, dua sosok harimau Majapahit itu kini tengah
bertempur satu lawan satu!
Belum lama pertempuran
terjadi, suasana tegang tiba-tiba dipecahkan oleh suara hentakan kendang dan
alunan gamelan!! Suara irama pertempuran!! Bunyi itu berasal dari arah Pendhopo
Pesanggrahan. Seluruh yang hadir melihat, disana, Sultan Trenggana nampak
tengah berdiri menyaksikan duel maut dua harimau Majapahit!! Sultan-lah yang
memerintahkan beberapa Pangrawit Keraton ( Pemusik Istana ) yang juga ikut
serta dalam rombongan Sultan di Pegunungan Prawata, untuk membunyikan gamelan
bernada perang!! Bunyi gamelan mengiringi adu kesaktian Jaka Tingkir dan Kebo
Andanu!!
Kendang
menghentak-hentak nyalang! Indah didengar!! Seiring gerakan dua orang yang
tengah mengadu nyawa! Hentakan kendang, dibarengi teriakan dari para prajurid
Demak!!!
Para gerilyawan diam
ditempat masing-masing! Mereka tidak mengira situasi berubah secepat itu! Namun
mereka tidak bisa berbuat apa-apa! Semua hanya bisa mengamati dengan dada
berdebar! Kedua orang yang tengah bertempur adalah para pemimpi mereka!
Namun tidak demikian
dipihak pasukan Demak! Setiap kali Jaka Tingkir menyarangkan serangan, kendang
dipukul keras!! Dan teriakan para prajurid mengiringinya!!! Disuatu saat,
manakala posisi keduaya merapat, Jaka Tingkir menggeram :
“Hentikan!!”
Kebo Andanu mendengus
:
“Bunuh aku, Raden!
Atau aku akan memenggal kepala Trenggana!”
Dan pertempuran
berjalan a lot! Masing-masing sangat tangguh dan terampil bermain keris! Namun
disuatu ketika, keris Jaka Tingkir berhasil melukai lambung Kebo Andanu!
Kendang menghentak!!! Gemuruh suara prajurid membahana!!
Kebo Andanu semakin
nekad!! Dan disuatu saat, ketika Jaka Tingkir berhasil membalikkan serangan
keris Kebo Andanu, ujung keris meluncur tak terarah lagi mengarah dada sang
pemimpin gerilyawan!! Jaka Tingkir kaget tapi terlambat!! Keris menancap
dalam!! Tepat didada Kebo Andanu!!
Kebo Andanu
menggeram!! Darah memancar dari dadanya!! Sesaat dia hendak bergerak kedepan,
namun tubuhnya luruh, dia jatuh terduduk.....!!!
Tangan kirinya
mendekap dada yang telah basah oleh darah segar!! Tangan kanannya yang tenngah
memegang keris diangkat tinggi-tinggi. Kebo Andanu berteriak :
“Jaya Majapahittt!!!”
Jaka Tingkir
terkesima! Tubuhnya bagai terpancang kuat kedasar bumi!! Sesaat sebelum Kebo
Andanu tersungkur, dia melihat ksatria Majapahit itu terseyum kepadanya!!!
Bunyi gamelan
kemenangan kini terdengar!! Sorak sorai para prajurid Demak bergema! Ditempat
lain para gerilyawan geger!!
Namun Ki Mas Manca
berhasil menenangkan mereka!!
Ki Mas Manca
memerintahkan dua orang gerilyawan maju kedepan. Jaka Tingkir tanggap, dia
membiarkan dua orang gerilyawan itu membawa jenazah Kebo Andanu! Jaka Tingkir
sempat berkata lirih, cukup didengar dua orang gerilyawan :
“Lakukan upacara
kematian yang layak!”
Dan, Ki Mas Manca
memerintahkan seluruh gerilyawan meninggalkan pesangrahan Pegunungan Prawata
saat itu juga!
(Peristiwa memilukan
ini diceritakan secara simbolis dalam Babad Tanah Jawa. Konon, sesampainya di
Pegunungan Prawata, Jaka Tingkir menemukan seekor kerbau liar yang bernama Kebo
Andanu. Kerbau tersebut ditangkap oleh Jaka Tingkir, lantas disalah satu
telinganya dimasukkannya segenggam tanah yang dibawa dari Banyu Biru. Kerbau
liar tersebut berubah semakin liar, lalu dilepaskan ke arah Pesanggrahan Sultan
Trenggana! Kerbau mengamuk! Para prajurid pengawal tidak ada yang mampu
menaklukkan amukan Kebo Andanu. Bahkan banyak para prajurid yangtewas terkena
amukannya! Pesanggrahan Pegunungan Prawata porak poranda oleh olah Kebo Andanu!
Sultan Trenggana panik! Lantas, dua orang prajurid menghadap Sultan dan
mengabarkan bahwa mereka melihat Jaka Tingkir. Seyogyanya Sultan meminta
pertolongan Jaka Tingkir untuk menaklukkan Kebo Andanu. Sultan menyetujui. Jaka
Tingkir akhirnya turun tangan. Jaka Tingkir bertempur dengan Kebo Andanu!
Kerbau dipegang, namun tidak menurut dan semakin liar! Terpaksa Jaka Tingkir
mengeluarkan tanah yang dia masukkan ke telinga kerbau, lalu Jaka Tingkir
memukul kepala kerbau! Kepala Kerbau pecah! Kebo Andanu tewas seketika! Sultan
Trenggana selamat dari amukan Kebo Andanu. Tanah yang disimbolkan dalam Babad
Tanah Jawa tal lain adalah daerah kekuasaan yang sempat dijanjikan kepada Kebo
Andanu. Namun daerah kekuasaan tersebut tidak jadi dimiliki Kebo Andanu karena
dia telah membangkang perintah Jaka Tingkir
Atas kebanggaannya
terhadap Joko Tingkir, Sultan Trenggono menjodohkan putri keempatnya, Retno Ayu
Ratu Mas Cepaka dengan Joko Tingkir atas persetujuan Sunan Kalijaga. Hal ini
dikarenakan istri Sultan adalah putri anggota Wali Songo yang paling menonjol
tersebut.
Joko Tingkir diberi
tanah Pajang dengan gelar Hadiwijaya Adipati Pajang. Dia bangun daerah baru
sebelah barat daya Dusun Butuh itu menjadi besar dan ramai. Hadiwijaya menjadi
seorang adipati yang dicintai rakyatnya berkat kebijaksanaannya.
Untuk membalas budi
atas jasa-jasa para gurunya, Joko Tingkir mengangkat anak-turunan gurunya
menjadi bagian dari istana Pajang. Tiga murid Ki Ageng Banyubiru; Mas Manca
diangkat sebagai patih dengan gelar Tumenggung Mancanegara. Ki Wila dan Ki
Wuragil dijadikan sebagai bupati.
Ki Ageng Ngenis, anak
bungsu Ki Ageng Selo diangkat sebagai priyayi di Lawiyan. Anak dan keponakan Ki
Ageng Ngenis, Ki Pamanahan dan Ki Penjawi diangkat sebagai lurah tamtama. Ipar
Ki Pamanahan, Ki Juru Martani diangkat sebagai priyayi. Sedangkan anak
Pamanahan, Raden Bagus atau Sutawijaya dijadikan sebagai anak angkat Adipati
Pajang dengan gelar Raden Ngabehi Loring Pasar.
Anak Ki Ageng Butuh
diberi gelar Pangeran Wenang Wulan, sedangkan Ki Ageng Banyubiru dan Ki Ageng
Majasta dijadikan sebagai pepunden/junjungan Pajang.
Dalam era ini pula
Sultan Trenggono memimpin ekspansi untuk menaklukkan Pasuruan, Singosari dan
Blambangan yang masih belum mau tunduk pada Kasultanan Demak. Namun sayang, di
tengah perang sebelum negeri-negeri di Jawa Timur tersebut ditaklukkan, Sultan
wafat. Sengketa tahta mulai terkuak, apalagi anggota Wali Songo juga terbelah
dalam posisi dukung-mendukung terhadap kandidatnya masing-masing. Sunan Kudus
mendukung Aryo Penangsang, Adipati Jipang Panolan. Sunan Kalijaga mendukung
Joko Tingkir –Adipati Pajang, sedangkan Sunan Giri merestui Sunan Prawoto
(Pangeran Suroyoto)
Intrik-intrik dalam
istana mulai terjadi. Aryo Penangsang melakukan balas dendam. Sunan Kudus yang
membeberkan cerita bahwa sesungguhnya pembunuh ayahnya, Pangeran Sekar Seda Ing
Lepen adalah Pangeran Prawata, putra Sultan Trenggono membuatnya menuntut
balas. Ia merasa haknya sebagai pewaris sah tahta kasultanan Demak pasca Pati
Unus wafat, dirampas. Dibunuhlah Prawata melalui tangan Rangkud, utusannya.
Demak kembali vacuum of power. Adik Prawata, Ratu Kalinyamat yang menikah
dengan Pangeran Hadiri dari Jepara pergi ke Kudus mencoba untuk meminta
keadilan dari Sunan Kudus. Tapi mereka kecewa karena Sunan Kudus membela Aryo
Penangsang. Sepulang dari Kudus mereka dicegat pasukan Aryo Penangsang. Semua
dibunuh kecuali Ratu Kalinyamat. Melihat kenyataan pahit tersebut, Ratu
Kalinyamat melakukan tapa telanjang di bukit Danaraja dan mengucapkan sumpah:
“Aku tidak akan mengenakan pakaian kembali seumur hidupku hingga Aryo
Penangsang mati! Siapapun juga yang mampu menewaskan Aryo Penangsang, ia akan
menerima pengabdianku dan seluruh harta kekayaanku”
Agar keinginan menjadi
Sultan Demak terlaksana, Sunan Kudus selaku penasehat politik Aryo Penangsang
menyarankan untuk melenyapkan Joko Tingkir sebagai satu-satunya penghalang.
Mengingat kesaktian Joko Tingkir, maka Aryo Penangsang mengirim empat pembunuh
bayaran; Singaprana, Wanengpati, Jagasatru dan Kartijaya. Untuk memuluskan
rencana, mereka dibekali oleh pusaka Aryo Penangsang, keris Kiai Setan Kober.
Para pembunuh
pembayaran itu dengan mudahnya masuk istana Pajang dengan ajian sirep. Namun
sayang, tubuh Joko Tingkir yang sedang tidur tidak mempan dengan hujaman keris
Aryo Penangsang. Karena gaduh, Joko Tingkir terbangun. Kibasan selimutnya
merobohkan tiga pembunuh hinga pingsan, sedangkan Wanengpati yang masih selamat
berhasil dilumpuhkan oleh Ki Pamanahan. Dengan kebijaksanaannya, keempat
pembunuh bayaran tersebut diampuni dan diberi hadiah oleh Joko Tingkir, disuruh
kembali untuk melapor ke Aryo Penangsang.
Aryo Penangsang merasa
terhina dengan perbuatan Joko Tingkir tersebut. Maka dibuatlah siasat
berikutnya untuk menjebak Joko Tingkir. Kali ini, dengan mengatasnamakan Sunan
Kudus, Aryo Penangsang mengundang Joko Tingkir ke Kudus untuk musyawarah ilmu.
Ki Pamanahan yang ahli strategi curiga atas undangan tersebut. Biasanya,
undangan musyawarah ilmu itu otoritasnya Sunan Giri, sedangkan Sunan Kudus
biasanya mengundang soal pembahasan strategi perang. Atas kejanggalan ini, maka
atas saran Pamanahan, Joko Tingkir tetap ke Kudus tapi dengan membawa pasukan
terbaik.
Sesampai di pendopo
Kudus, Joko Tingkir dan Aryo Penangsang duduk berhadapan. Dengan tipu muslihat
Aryo Penangsang meminjam keris pusaka Joko Tingkir dengan segala pujian. Keris
itu dikeluarkan dari warangkanya. Melihat gelagat kurang baik, Ki Pamanahan
menepuk bahu Joko Tingkir yang menjadikannya tersadar lalu sesegera mungkin
mengeluarkan keris pusakanya yang lain; Kiai Cerubuk.
Kedua pangeran dengan
keris terhunus saling pamer kekuatan. Sunan Kudus yang melihat ketegangan
tersebut mencoba untuk melerai. Keduanya diminta untuk menyarungkan kembali
kerisnya. Joko Tingkir memasukkan keris Kiai Cerubuk ke warangkanya, diikui
Aryo Penangsang. Joko Tingkir mengundurkan diri.
Sunan Kudus
menyalahkan Aryo Penangsang yang tidak menghujamkan keris Joko Tingkir yang
dipinjamnya tatkala Joko Tingkir sudah menyarungkan Kiai Cerubuk terlebih
dahulu. Kata-kata Sunan Kudus, “sarungkan kerismu” yang sebenarnya dimaksudkan
untuk membunuh Joko Tingkir, dipahami Aryo Penangsang dengan menyarungkan keris
Joko Tingkir itu ke warangkanya. Aryo Penangsang menyadari ketidakcerdasannya.
Hilang lagi kesempatannya untuk melenyapkan Joko Tingkir.
Hawa permusuhan
semakin panas. Jipang Panolan yang berada di sebelah timur Bengawan Sore versus
pasukan Pajang di sebelah barat. Dalam kondisi ini peran Ki Pamanahan yang ahli
strategi sangat dominan. Walaupun hanya sebatas lurah tamtama Pajang, saran dan
nasehatnya sangat didengar oleh Joko Tingkir.
Ingat akan sumpah Ratu
Kalinyamat, Pamanahan pergi ke bukit Danaraja. Ia melobi Kalinyamat agar Joko
Tingkir diberi kesempatan mengambil sayembara itu. Agar Joko Tingkir teguh
semangatnya, Pamanahan menyarankan agar Kalinyamat menawarkan dua dayang cantik
yang menjaganya. Setelah sepakat, Pamanahan kembali ke Bengawan Sore, tempat
markas pasukan Pajang untuk melaporkan hasil pertemuannya dengan Kalinyamat.
Joko Tingkir setuju
atas laporan Pamanahan, maka berangkatlah ia menuju Danaraja. Sesuai dengan
sumpahnya, Kalinyamat akan menyerahkan harta dan kekayaannya jika Joko Tingkir
sanggup membunuh Aryo Penangsang. Dua dayang cantik dimunculkan, maka
terpesonalah Joko Tingkir. Akhirnya dia menyanggupi menjawab sumpah Ratu
Kalinyamat. Agar tidak terjadi masalah di kemudian hari, maka Raden Pangiri
(putra Pangeran Prawata) yang masih bocah dijodohkan dengan putri sulung Joko
Tingkir. Hal ini dilakukan untuk mengatasi problem kekosongan kekuasaan Demak.
Menjadi aneh, ketika
para keturunan Ki Ageng Selo (Ki Pamanahan, Ki Penjawi dan Ki Juru Martani)
justru menyarankan agar yang melenyapkan Aryo Penangsang bukan Joko Tingkir
langsung, tapi disayembarakan saja dengan hadiah tanah Pati dan hutan Mataram.
Endingnya, mereka juga yang mengambil sayembara tersebut (saran dari Ki Juru
Martani). Sejarah ini perlu ditela’ah kembali bagaimana Pamanahan cs memberi
ide sekaligus mengambil ide tersebut.
Joko Tingkir bangga
karena Pamanahan cs menunjukkan keberaniannya. Sutawijaya, anak Pamanahan juga
ingin ikut dalam rencana itu. Karenanya, Joko Tingkir memberinya tombak Kiai
Plered kepadanya untuk menghadapi Aryo Penangsang. Tombak pusaka tersebut
merupakan pemberian Ki Ageng Selo yang tak lain buyut dari Sutawijaya sendiri.
Ki Juru Martani mulai
mengatur siasat. Bersama dua ratus orang Selo mereka menuju ke sebelah barat
Bengawan Sore. Di sana, mereka memotong telinga kiri seorang pekatik (pencari
rumput) kudanya Aryo Penangsang yang sengaja menjadi telik sandi untuk
memata-matai gerak pasukan Selo. Disuruhlah si pekatik itu pulang ke Jipang
dengan sepucuk surat tantangan atas nama Hadiwijaya diikatkan di telinga kanan
dan diberinya uang secukupnya untuk pengobatan.
Dengan penuh darah
yang bercecer, si pekatik menghadap Aryo Penangsang. Murkalah cucu Raden Patah
itu. Nasehat Patih Mentaun dan Arya Mataram –adiknya- tidak digubrisnya.
Dipacunya Gagak Rimang menuju Bengawan Sore.
Juru Martani memancing
emosi agar Aryo Penangsang mau menyeberang bengawan. Konon, menurut riwayat;
barang siapa pada saat berperang yang melewati bengawan itu akan mengalami
kekalahan. Dengan tombak Kiai Dandang Mungsuh, Aryo Penangsang menyeberang
dengan amarahnya. Sesampai di tepi barat bengawan dia dikeroyok ratusan warga
Selo, tapi tidak mempan. Orang Selo dibuatnya kocar-kacir. Melihat gelagat
demikian, Juru Martani kembali mengatur strategi. Dilepaslah seekor kuda betina
untuk mengalihkan konsentrasi Gagak Rimang. Ia terpancing, kuda itu
meronta-ronta tidak bisa dikendalikan tuannya. Pada saat Aryo Penangsang
lengah, tombak Kiai Plered menghujam dada Aryo Penangsang dari tangan
Sutawijaya. Usus Aryo Penangsang terburai, meskipun demikian Adipati Jipang itu
masih perkasa melakukan perlawanan. Disampirkanlah ususnya ke gagang keris.
Sutawijaya kembali menyerang. Tombak Kiai Plered kembali mementalkan tombak
Kiai Dandang Mungsuh hingga terjatuh. Aryo Penangsang mencabut kerisnya. Tapi
dia lupa, ususnya pun putus oleh pusakanya sendiri. Tewaslah Aryo Penangsang.
Juru Martani kembali
melakukan siasat. Laporan yang masuk ke Joko Tingkir menyebutkan yang membunuh
Aryo Penangsang adalah Ki Pamanahan dan Ki Penjawi, bukan Sutawijaya. Ini
sebagai strategi agar hadiah sayembara dari Joko Tingkir tetap bisa didapatkan,
karena kalau Joko Tingkir tahu yang membunuh Aryo Penangsang adalah Sutawijaya
yang notabene anak angkatnya, tentu dia tidak akan memberikan hadiah tanah Pati
dan hutam Mataram, tapi hanya hadiah biasa saja.
Joko Tingkir bangga
akan keberhasilan keturunan Ki Ageng Selo. Ki Penjawi diberinya (dan memilih)
tanah Pati, sedangkan hutan Mataram akan diserahkan ke Pamanahan sehabis dia
diutus melapor ke Ratu Kalinyamat di bukit Danaraja. Lagi-lagi Pamanahan
berbohong tentang siapa pembunuh Aryo Penangsang (sesuai yang dilaporkannya
juga ke Joko Tingkir). Karena jasanya, Ratu Kalinyamat menyerahkan wilayah
Kalinyamat dan Prawata ke Pamanahan, tapi dia menolak hadiah sayembara
tersebut.
Ratu Kalinyamat
merestui gelar sultan untuk Hadiwijaya; Sultan Hadiwijaya Kerajaan Pajang. Ratu
juga memberi hadiah harta kekayaan untuk Pamanahan, tapi sekali lagi ditolak.
Pamanahan hanya minta pusaka saja. Ratu Kalinyamat akhirnya memberinya 2 cincin
pusaka; cincin mirah delima “Menjangan Bang” dan cincin pusaka intan “Si Celuk”
dengan perjanjian tanpa sepengetahuan Joko Tingkir.
Sepulang dari Danaraja,
Pamanahan bukannya ke Pajang tapi mampir ke kampungnya dulu di Selo. Dia
mengajak kerabatnya untuk pindah dan membabat hutan Mataram sebagai sebuah
daerah perdikan Pajang. Sehabis dari hutan Mataram barulah ia ke Pajang.
Lagi-lagi Joko Tingkir
menunda hadiah sayembara hutan Mataram. Janjinya, hadiah itu akan diberikan
kepada Pamanahan saat “Penghadapan Agung” di Giri, Gresik. Di acara pengukuhan
Joko Tingkir sebagai sultan Tanah Jawa oleh Sunan Giri itulah hadiah akan
diberikannya. Pamanahan mulai memendam kecewa.
Joko Tingkir
sepertinya takut akan ramalan guru sekaligus kakek menantunya, Sunan Kalijaga
yang telah meramalkan akan muncul kerajaan besar dari hutan Mataram. Karenanya,
hadiah tersebut dia pending. Hanya atas bantuan Sunan Kalijogo pula akhirnya
Joko Tingkir mau menyerahkan hutan Mataram ke Ki Pamanahan. Syaratnya,
Pamanahan harus mengikat tunduk-setia pada Pajang. Pamanahan berikrar setia
tapi hanya untuk dirinya sendiri. Dia tidak mengikrarkan setia untuk anak dan
turunannya. Dan kelak memang benar, muncullah Sutawijaya yang tak lain anak
angkat Joko Tingkir dengan gelar Panembahan Senopati sebagai raja pertama
Kerajaan Mataram. Dia memerintah hingga 32 tahun lamanya. Dengan munculnya
Mataram Baru, maka berakhirlah riwayat kerajaan Pajang yang hanya mampu berumur
1 raja saja, yakni Joko Tingkir itu sendiri. Akhirnya tercapailah harapan Ki
Ageng Selo; bahwa anak-keturunannya akhirnya bisa menjadi raja Jawa.
Sejarah Pusaka Timang
Kyai Bajulgiling
Menurut Babad Jawi dan
Babad Sengkala, timang atau kepala ikat pinggang Kyai Bajulgiling adalah timang
sakti milik Kyai Buyut dari Banyubiru yang kemudian diberikan kepada Jaka
Tingkir atau Mas Karebet. Timang Kyai Bajulgiling ’bersama ikat pinggangnya
yang terbuat dari kulit buaya itu diberikan Kyai Buyut dari Banyubiru kepada
Jaka Tingkir sebagai piandel dalam pengabdiannya ke Kerajaan Demak Bintoro yang
kemungkinan akan mengalami banyak hambatan, baik selama di perjalanan maupun
setelah berada di Demak Bintaro.
Diceritakan dalam
Babad Pengging, konon Timang Kyai Bajulgiling dibuat oleh Kyai Banyubiru dari
bijih baja murni yang diambil dari dalam gumpalan magma lahar Gunung Merapi.
Dengan kekuatan gaibnya, bijih baja murni itu oleh Kyai Banyubiru dibuat
menjadi dua pusaka. Satu berbentuk sebilah keris luk tujuh yang dikenal dengan
nama Kyai Jalakpupon dan satunya lagi berbentuk timang (kepala ikat pinggang)
yang kemudian dikenal dengan nama Kyai Bajulgiling, karena bentuk mata timang
yang seperti buaya giling dengan kepala sedikit terangkat, mulut terkatup tapi
kedua matanya terbuka lebar.
Kekuatan gaib yang
dimiliki oleh Timang Kyai Bajulgiling ialah, barang siapa yang memakai ikat
pinggang Timang Kyai Bajulgiling ini, maka dia akan kebal dari segala macam
senjata tajam dan ditakuti semua binatang buas. Hal ini selain kekuatan alami
yang dimiliki oleh inti bijih baja murni itu sendiri, juga karena adanya
kekuatan rajah berkekuatan gaib yang diguratkan Kyai Banyubiru di seputar
timang tersebut. Kemudian kekuatan ikat pinggang ber-Timang Kyai Bajulgiling
beberapa kali dialami dan dibuktikan sendiri oleh JakaTingkir.
Mengenai hal ini Babad
Tanah Jawi menceritkan sebagai berikut:
Jaka Tingkir konon
lahir di Pengging yang penuh rahasia, yang tentunya sebuah negeri kecil yang
berdiri sendiri. Di sana terdapat beberapa benda kuno dari zaman Hindu, juga
sebuah makam keramat yang dinyatakan sebagai tempat peristirahatan ayah Jaka
Tingkir yang bernama Kebo Kenanga putra Prabu Handayaningrat. Karena ia lahir
sewaktu ada pertunjukkan wayang Beber (juga dinamakan wayang Karebet), maka ia
pun dinamakan Mas Karebet.
Tetapi Jaka Tingkir
tidak dibesarkan di Pengging, namun di Tingkir, sebab Sunan Kudus, raja pendeta
diplomat jendral Demak, telah membunuh ayahnya karena fitnah pembangkangan, dan
tidak lama setelah itu ibunya pun meninggal. Keluarganya kemudian membawanya ke
Tingkir, dan disana ia diasuh oleh seorang janda kaya, sahabat ayahnya. Karena
itulah ia diberi nama Jaka Tingkir, pemuda dari Tingkir.
Mengikuti saran Ki
Ageng Selo, gurunya dan Sunan Kalijaga, Jaka Tingkir pergi ke Demak untuk
bekerja mengabdikan diri pada Sultan Demak, dan melamar sebagai pengawal
pribadi. Keberhasilannya meloncati kolam masjid dengan lompatan ke belakang
tanpa sengaja, karena sekonyong-konyong ia harus menghindari Sultan dan para
pengiringnya memperlihatkan bahwa dialah orang yang tepat sebagai tamtama, dan
diapun dijadikan sebagai kepala.
Beberapa waktu
kemudian satuan itu menuntut perluasan. Seorang calon yang tak berwajah tampan
(buruk rupa), bersikap tidak menyenangkan bagi panglima muda ini. Karenanya
calon itu tidak diuji seperti bisa, yaitu menghancurkan kepala banteng dengan
tangan telanjang, melainkan diuji kekebalannya yang disetujui pula oleh yang
bersangkutan. Dan hanya dengan sebuah tusuk konde Jaka Tingkir mampu menembus
jantungnya. Alangkah hebat kesaktiannya. Tapi seketika itu juga, hal ini
mengakibatkan ia dipecat dan dibuang.
Kepergiannya
menimbulkan rasa sedih yang mendalam pada kawan-kawannya. Dengan rasa putus asa
Jaka Tingkir pulang kembali dan ingin mati saja.
Dua orang pertapa, Ki
Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang (suami dari putri Bondan Kejawen atau adik Ki
Ageng Getas Pendawa, kakek buyut Panembahan Senopati) tidak hanya memberi
pelajaran, tetapi juga memberi semangat kepadanya. Ketika Jaka Tingkir
berziarah di malam hari di makam ayahnya di Pengging, terdengarlah suara yang
menyuruhnya pergi ke tokoh-tokoh keramat lain, antara lain Kyai Buyut dari
Banyubiru yang selanjutnya menjadi gurunya. Demikianlah Kyai ini memberikan
kepadanya azimat agar ia mendapat perkenan kembali dari Sultan. Azimat
pemberian Kyai Buyut dari Banyubiru itu berupa sebuah ikat pinggang dengan
timang yang matanya berwujud buaya, yang diyakini sebagai Timang Kyai
Bajulgiling.
Perjalanan kembali
Jaka Tingkir ke Demak dilakukan dengan getek (rakit yang hanya terdiri dari
susunan beberapa batang bambu). Saat akan melewati Kedung Srengenge, Jaka
Tingkir menghadapi hambatan karena adanya sekawanan buaya, kurang lebih
berjumlah 40 ekor, yang menjadi penghuni dan penjaga kedung tersebut. Percaya
dengan kekuatan gaib dari Timang ikat pinggang pemberian Kyai Buyut Banyubiru,
Jaka Tingkir nekad mengayuhkan geteknya memasuki kawasan Kedung Srengenge.
Bahaya pun mengancam
ketika sekawanan buaya menghadang dan mengitari rakitnya. Namun berkat kekuatan
gaib dari Timang Kyai Bajulgiling, buaya-buaya yang semula buas beringas
seketika menjadi lemah dan akhirnya tunduk pada Jaka Tingkir. Bahkan keempat
puluh buaya ekor buaya itu menjadi pengawal perjalanan Jaka Tingkir selama
menyebrangi Kedung Srengenge dengan berenang di kiri-kanan, depan dan belakang
rakitnya.
Di wilayah Demak
azimat pemberian Kyai Buyut Banyubiru diterapkannya kembali. Seekor lembu liar
dibuatnya menjadi gila, sehingga tiga hari tiga malam para tamtama pun tidak
dapat menghancurkan kepalanya, dan bahkan dengan malu terpaksa mengaku kalah.
Hanya Jaka Tingkir yang berhasil membunuh kerbau itu, yakni hanya dengan
mengeluarkan azimat yang telah dimasukkan ke dalam mulut hewan itu sebelumnya.
Setelah itu ia mendapatkan kembali kedudukannya yang lama.
Beberapa waktu
kemudian ia menikah dengan putri ke -5 Raja (Sultan Trenggono) dan menjadi
Bupati Pajang dengan daerah seluas 4.000 bahu. Tiga tahun ia harus menghadap ke
Demak, tetapi negerinya berkembang dengan baik sekali dan di sanalah
dibangunnya sebuah istana….
Demikianlah sekilah
kisah tentang Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya, gelar setelah menjadi Raja
di Pajang. Setelah dia wafat, lalu dimanakah keberadaan ikat pinggang dan
Timang Kyai Bajulgiling azimat pemberian Kyai Buyut Banyubiru itu? Sebab setelah
meninggalnya Jaka Tingkir, tak satu pun dari anak, menantu dan kerabat dekat
Sultan Hadiwijaya seperti Pangeran Benowo, Pangeran Pangiri dan juga Sutawijaya
atau Senopati pernah menyimpan Timang Kyai Bajulgiling? Demikian juga halnya
dengan dua sahabat dekatnya dari Pengging, Tumenggung Wirakerti dan Suratanu.
Menurut cerita, ikat
pinggang dengan Timang Kyai Bajulgiling itu tertinggal di depan makam Sunan
Tembayat di Gunung Jabalkat (masuk wilayah Kabupaten Klaten, Jawa Tengah), lupa
terbawa oleh Sultan Hadiwijaya yang mengakibatkan ia terjatuh dari gajah yang
dinaikinya dalam perjalanan pulang dari Tembayat ke Pajang.
Seperti diceritakan
dalam Serat Kanda. Kedatangan iparnya Tumenggung Mayang memberi kesempatan
kepada Senopati untuk mendapat pengikut lebih banyak lagi dari Pajang.
Fakta-fakta ini pada suatu hari dalam persidangan agung di Pajang disodorkan
oleh para menantu raja (Tumenggung Tuban dan Tumenggung Demak) kepada raja agar
diperhatikan karena mereka berpendapat perlu segera menggempur Mataram.
Meskipun sadar akan jatuhnya Pajang nanti, Sultan tidak bisa bertahan atas
desakan itu, dan memerintahkan untuk mengangkat senjata. Para tumenggung
menyatakan bersedia, asalkan Sultan turut serta, meskipun berada di belakang
barisan.
Lebih kurang 10.000 orang
prajurit dipersiapkan. Pangeran Benowo naik kuda di belakang ayahnya yang duduk
di atas gajah. Di Prambanan mereka berhenti dan memperkuat pertahanan dengan
meriam.
Kyai Adipati Mandaraka
(Juru Mertani), yang melihat akan terjadinya pertempuran besar, mendesak
Senopati agar pergi ke Gua Langse (Gua Rara Kidul) sedangkan ia sendiri akan ke
Gunung Merapi untuk meminta bantuan. Setelah kembali dari Gua Langse Senopati
mengumpulkan 1.000 orang prajurit, dan 300 orang di antaranya ditempatkan di
sebelah selatan Prambanan. Mereka mendapat perintah, begitu terdengar suara
letusan keluar dari Gunung Merapi, harus segera memukul canang Kyai Bicak dan
berteriak-teriak. Sebagai panglima diangkat Tumenggung Mayang.
Pertempuran terjadi di
dua tempat. Pasukan Mataram pura-pura melarikan diri. Tetapi orang-orang Pajang
yang mengejarnya tiba-tiba diserang oleh pasukan Matram dari dua arah dan
dicerai-beraikan. Gelap malam menghentikan pertempuran itu. Kedua belah pihak
kembali ke kubu pertahanan masing-masing.
Hari itu pukul tujuh
pagi, Gunung Merapi meletus di tengah-tengah kegelapan. Hujan lebat, hujan
debu, gempa bumi, banjir dan gejala alam lain yang menyeramkan. Orang-orang
Mataram memukul Canang Kyai Bicak. Banjir menggenangi kubu panjang yang memaksa
mereka melarikan diri dalam kebingungan. Sultan terseret dalam kekacauan itu.
Selanjutnya
diceritakan dalam Serat Babad Tanah Jawi. Sultan, dalam hal ini Sultan
Hadiwijaya atau Jaka Tingkir, yang malang dan terpaksa melarikan diri itu ingin
berdoa di makam Tembayat, tetapi pintu makam tidak dapat dibuka. Raja tidak
mampu membukanya sehingga ia berlutut saja di luar. Juru kunci memberikan
penjelasan yang sangat buruk tentang kejadian itu. Rupanya Allah tidak lagi
memberinya izin menjadi raja. Hal ini amat mengguncangkan jiwa sang raja. Pada
malam hari ia tidur dalam bale kencur yang dikelilingi air, yang sangat
menyegarkan.
Esok harinya
perjalanan dilanjutkan, tetapi raja terjatuh dari gajahnya dan menjadi sakit
karenanya. Setelah itu ia dinaikkan di atas tandu, begitulah perjalanan pulang
ke Pajang amat lambat dan raja duduk terguncang-guncang di atas tandu.
Pangeran Benowo,
Pangeran Pengiri, Tumenggung Wirakerti dan Suratanu yang menolong raja saat
jatuh dari gajah, segera mengetahui, mengapa Sultan tidak bisa lagi mengendalikan
gajah yang tiba-tiba menjadi galak, karena tidak lagi adanya ikat pinggang
azimat dari Kyai Buyut Banyubiru di pinggangnya. Suratanu ingat, Sultan
melepaskan ikat pinggang itu dari tubuhnya dan meletakkan di sampingnya saat
berdoa di depan makam Sunan Tembayat. Suratanu meyakini ikat pinggang itu pasti
lupa terbawa oleh Sultan dan masih tertinggal di depan pintu makam di Tembayat.
Dengan cepat Suratanu
menggebrak kudanya kembali ke makam Sunan Tambayat. Tapi ikat pinggang itu
sudah tidak ada di tempatnya. Menurut juru kunci, hilangnya ikat pinggang
Sultan memberi pertanda akan berakhirnya masa kejayaannya, karena ikat pinggang
itulah yang telah mengantarnya mendapatkan harkat dan martabat yang terhormat.
Banyak kisah tentang
hilangnya dan keberadaan ikat pinggang bertimang Kyai Bajulgiling yang bertuah
itu. Ada sebagian kisah menceritakan, ikat pinggang yang tertinggal di depan
pintu makam Sunan Tembayat itu diambil dan disimpan oleh juru kunci makam.
Tetapi ada pula yang mempercayai ikat pinggang itu hilang secara gaib, yang
hilangnya azimat itu juga diketahui dan disadari oleh Sultan.
Namun yang jelas, ikat
pinggang dengan Timang Kyai Bajulgiling azimat buatan Kyai Buyut Banyubiru itu
secara gaib masih tersimpan di seputar makam Sunan Tembayat di Gunung Jabalkat.
Karena itu tak heran bila sejak dahulu sampai sekarang banyak orang pintar yang
berusaha mengambilnya dari alam gaib, baik untuk dirinya sendiri atau untuk
kepentingan orang lain. Hal ini karena adanya kepercayaan, akan kekuatan gaib
yang terkandung dalam Timang Kyai Bajulgiling yang dapat mengangkat derajat,
harkat dan martabat pemilik atau pemakainya.
Meski sudah banyak
sekali orang pintar yang memburu kepala ikat pinggang sakti milik Jaka Tingkir
itu, namun hingga kini belum diperoleh informasi apakah sudah ada di antara
mereka yang berhasil mendapatkan benda keramat dari alam gaib itu.
Saat berkunjung ke
lokasi Makam Sunan Tembayat di Gunung Jabalkat beberapa waktu silam, yang
kebetulan ditemani oleh Mbah Diran, seorang paranormal asal dusun setempat,
tidak berhasil mendapatkan gambaran gaib mengenai benda ini.
”Sepertinya ada
kekuatan gaib yang sangat hebat menutupi keberadaan Timang Kyai Bajulgiling,
sehingga Mbah sulat untuk melacak posisinya. Mungkin, faka ini juga yang
membuat banyak orang yang memburunya sulit mendapatkan pusaka sakti ini,”
Sedikit ulasan sejarah
Kyai Ageng Banyubiru yang menjadi guru Djoko Tingkir dan sekaligus sang dalang
politik suksesi Djoko Tingkir di Demak. Scml
https://www.youtube.com/channel/UCts5Ua5IehgoRev-E6-zh1A ( KI COKRO ST )

Tidak ada komentar:
Posting Komentar